<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1" ?>
<rss version="0.91">
  <channel>
    <title>Cerpennya_Lian</title>
    <link>http://cerpen2.blogdrive.com/</link>
    <description>Cerpennya_Lian</description>
    <lastBuildDate>Tue, 05 Oct 2004 12:25:00 PDT</lastBuildDate>
    <generator>http://www.blogdrive.com</generator>
    <copyright>Copyright 2004.</copyright>
    <item>
      <title>HANGUS</title>
      <link>http://cerpen2.blogdrive.com/archive/15.html</link>
      <pubDate>Thu, 23 Sep 2004 19:45:44 GMT</pubDate>
      <description>
Saya suka hujan. Rasanya menyenangkan keluar di saat hujan turun. Hujan rintik, gerimis kecil, hujan lebat juga boleh. Mandi hujan dengan aktivitas dan misi lain seperti sambil bermain sepak bola, iseng agar rambut basah, jalan kaki dengan niat berolahraga, atau untuk alasan-alasan lain sering saya lakukan. 
Buat saya hujan itu berkah yang mengucur dari langit. Begitu mendengar hujan turun, saya akan keluar dari rumah. Kapan saja. Saya tidak pernah merasa takut hujan. Bahkan hujan yang disertai kilat yang menyambar-nyambar di langit dengan gemuruh suara halilintar yang membuat jantung... (more)</description>
      <comments>http://cerpen2.blogdrive.com/comments?id=15</comments>
    </item>
    <item>
      <title>EUREKA!</title>
      <link>http://cerpen2.blogdrive.com/archive/14.html</link>
      <pubDate>Thu, 23 Sep 2004 19:44:36 GMT</pubDate>
      <description>
Banyak yang tidak saya suka darinya. Salah satunya, isi pembicaraan yang di dalamnya ada intonasi suara yang terdengar lucu, logat ramah yang aneh, monoton, lalu berakhir pada nada yang tinggi melengking, hingga sering menimbulkan kejenuhan mendengar di kuping.
Namun saya suka dia. Hampir gemuk. Berisi. Punya mata indah dan bibir sebelah atas yang sensual menggoda. Terbayang saat dia bicara memonyong-monyongkan bibirnya bersemangat pada kemampuan terbaiknya sambil matanya terpejam perlahan-lahan. Lembut. Mengatup dengan indah. Keduanya: mata dan bibir.
Saya juga tidak mengerti apa... (more)</description>
      <comments>http://cerpen2.blogdrive.com/comments?id=14</comments>
    </item>
    <item>
      <title>REVOLUSI RAMBUT</title>
      <link>http://cerpen2.blogdrive.com/archive/13.html</link>
      <pubDate>Thu, 23 Sep 2004 19:28:33 GMT</pubDate>
      <description>

 
Yang paling aku benci adalah jatuh cinta lagi. Bertingkah seperti dua orang bodoh[i]. Itulah sebabnya aku bersumpah tidak akan kembali menyerahkan hati ini pada siapa pun. Maksudku, pada perempuan mana pun. Aku tidak mau dan tidak pernah jatuh cinta pada lelaki. Laki-laki tak secuil pun membuatku bergairah. 
Maka kuputuskan menumpahkan segala perhatianku pada kaktus. Tanaman yang termasuk famili cactaceae ini, selain memiliki bunga-bunga cantik yang tersembunyi di antara duri-duri, juga unik. Mahkota bunganya ternyata tak berkelopak. Tapi, tentu, bukan itu saja keistimewaannya.... (more)</description>
      <comments>http://cerpen2.blogdrive.com/comments?id=13</comments>
    </item>
    <item>
      <title>LELAKI YANG DUDUK DI AYUNAN SEPANJANG HARI</title>
      <link>http://cerpen2.blogdrive.com/archive/12.html</link>
      <pubDate>Thu, 23 Sep 2004 19:25:40 GMT</pubDate>
      <description>

 
Sampai sore ini empat hari sudah Handoko (29 tahun) menunggu kedatangan surat itu. Seorang teman yang sering terlibat diskusi seru dengannya dari mereka masih pelajar SMP, Fatima namanya, (kini menetap di Padang), mengirim pesan ke telepon genggamnya: “Sdh sampaikh suratku? Banyak crita kutulis, via sms gak akn ttampung. Hrsny kt bicara lgsng. Tp mahal kl sljj km ke Bdg. Hrp maklum, Bung!”[i]
Semenjak SMS itu ia terima, jika hari cerah atau matahari tidak terlalu terik bersinar, setiap pagi sehabis sarapan Handoko duduk di ayunan yang ada di halaman rumahnya menanti tukang pos lewat.... (more)</description>
      <comments>http://cerpen2.blogdrive.com/comments?id=12</comments>
    </item>
    <item>
      <title>MUAK</title>
      <link>http://cerpen2.blogdrive.com/archive/11.html</link>
      <pubDate>Thu, 23 Sep 2004 19:21:58 GMT</pubDate>
      <description>

 
Gadis itu dipaksa waktu untuk menetap di sebuah pulau. Jauh di tengah lautan. Tidak ada yang tahu sampai berapa lama, kecuali waktu itu sendiri. Dan waktu tidak ingin berbagi. 
Aku – tak ada yang mampu memaksa meninggalkan pulau ini. Ibu sekali pun. Namun terus saja beliau membujukku. Bahkan waktu. Atau setidaknya saat ini waktu tidak bisa berbuat apa-apa. Tanah ini sudah terlalu banyak melahirkan gadis-gadis menarik. He-he-he! Aku sangat kerasan di sini. Tapi nanti akan tiba saatnya kutinggalkan semuanya dengan tidak menoleh sedetik pun ke belakang.
Telepon di kamarku berdering... (more)</description>
      <comments>http://cerpen2.blogdrive.com/comments?id=11</comments>
    </item>
    <item>
      <title>MENIK (PEREMPUAN YANG MEMUJA LAMPU-LAMPU)</title>
      <link>http://cerpen2.blogdrive.com/archive/10.html</link>
      <pubDate>Thu, 23 Sep 2004 19:19:54 GMT</pubDate>
      <description>

 
Menik senang sekali memperhatikan lampu-lampu itu. Berbinar-binar matanya memantulkan cahaya jika dia sedang memandanginya seperti sekarang ini. Kebahagiaan juga kesedihan memancar dari sana. Sekaligus.
Tiap kali kencan malam hari bersama Adit, dia selalu meminta laki-laki itu untuk bersedia mengantarkannya menuju lokasi sebuah kilang minyak milik pemerintah, 14 km dari pusat kota. Katanya dengan manja, “Mas Adit! Kita lihat lampu-lampu kilang lagi, yuk!”
Ada ribuan lampu-lampu di kilang itu. Terang sekali. Putih. Kuning kemerahan. Berkilau. Seperti jutaan bintang yang disusun... (more)</description>
      <comments>http://cerpen2.blogdrive.com/comments?id=10</comments>
    </item>
    <item>
      <title>BUNGA-BUNGA</title>
      <link>http://cerpen2.blogdrive.com/archive/9.html</link>
      <pubDate>Thu, 23 Sep 2004 19:12:03 GMT</pubDate>
      <description>

 
Benar-benar saat terakhir, turun dari pesawat terbang menuju mobil jemputan, tak dijumpainya lagi perempuan itu. Mungkin dia sudah turun duluan, pikirnya. Sorot mata cerdas gadis 9 tahun pendiam berkulit putih amat dikenalnya itu, ia lihat terakhir kali dalam kokpit hercules yang menerbangkan mereka berpuluh-puluh tahun yang lalu. Setangkai anyelir mungil diselipkan di telinga kiri si gadis. Ungu.
Mereka duduk bersebelahan satu kelas di salah satu kelas 3 sebuah SD di kota kelahirannya. Laki-laki itu suka mencuri-curi pandang. Ada sepasang pipi bersih yang selalu ingin dikaguminya... (more)</description>
      <comments>http://cerpen2.blogdrive.com/comments?id=9</comments>
    </item>
    <item>
      <title>INSOMNIA</title>
      <link>http://cerpen2.blogdrive.com/archive/8.html</link>
      <pubDate>Thu, 23 Sep 2004 19:04:57 GMT</pubDate>
      <description>

 
Di kamar ini cuma ada kecoa. Meja dan kursi-kursi. Tas dan buku-buku kuliah. Tempat tidur, kasur dan bantal. Selimut. Jins yang tergantung. Bunyi detak jarum jam dinding (biasanya tak terdengar). Auguzta menuliskan semua: “Kapan masalah berakhir? Kenapa susah sekali untuk tidur?”
Rasanya tidak adil jika ia sering berkeluh kesah, mengomel tentang masalah-masalah yang sedang dihadapinya kepada diri sendiri sementara orang lain dianggap tidak punya masalah sama sekali.
Susah tidur itu bukan melulu karena banyak masalah menyerbu. Hadapi sajalah dan besok aku konsultasi ke dokter.... (more)</description>
      <comments>http://cerpen2.blogdrive.com/comments?id=8</comments>
    </item>
    <item>
      <title>UNGU</title>
      <link>http://cerpen2.blogdrive.com/archive/7.html</link>
      <pubDate>Thu, 23 Sep 2004 19:02:42 GMT</pubDate>
      <description>

 
 
Ia tidak tahu sedang berada di mana. Entah kapan. Terlalu banyak yang ia rasakan. “Barangkali aku sudah gila,” Auguzta bicara pada dirinya sendiri.
Dilihatnya bola softball itu berputar kencang lurus menujunya, lalu setelah mendekati pemukul yang berdiri di depannya tiba-tiba menurun, masuk glove catcher di tangan kirinya. Si Pemukul hampir terjatuh karena hanya memukul angin. Lemparan down ball yang sempurna. “Strike One!” Umpire di belakangnya mengingatkan. Auguzta bangkit dari jongkoknya. “Lagi, Pitch! Kasih lagi yang seperti tadi!” ia berteriak ke arah orang yang dipanggilnya... (more)</description>
      <comments>http://cerpen2.blogdrive.com/comments?id=7</comments>
    </item>
    <item>
      <title>DI KUBURAN</title>
      <link>http://cerpen2.blogdrive.com/archive/6.html</link>
      <pubDate>Thu, 23 Sep 2004 18:47:24 GMT</pubDate>
      <description>

 
“Dahsyat!” jawab Diani, gadisku. Aku bertanya apa yang dirasakan bibirnya - mengunyah sebutir permen. Paling lama ia hidup dua tahun lagi. (Perkiraan dokter! Tapi apa sih yang pasti?) Apakah orang yang mau mati bertingkah begitu?
Malam itu kami melintasi sebuah tempat pemakaman umum. Kuburan menjadi sangat indah diterangi sinar lampu. Ya. Sinar lampu dari sepeda motor yang aku kendarai dengan sebelah tangan dan dia membonceng di belakang. Seekor anak anjing berlari lambat-lambat, matanya jadi biru, kukira kunang-kunang terbang merendah.
Nisan-nisan tegak kaku menyiratkan statistik... (more)</description>
      <comments>http://cerpen2.blogdrive.com/comments?id=6</comments>
    </item>
  </channel>
</rss>

