 |

Sep 23, 2004
Bangkai seekor kucing kurus (apakah ia kanak-kanak atau tengah beranjak remaja tak mampu kubedakan) dibiarkan tergeletak begitu saja dalam posisi tubuh miring di atas semen tak rapi dalam sebuah gang sempit. Bibirnya basah dikerubungi lalat-lalat. Bulunya yang tipis semakin terlihat jarang. Sesaat menjelang mati, tentu ia didera kedinginan yang hebat karena hujan lebat turun semalaman.
Entah siapa yang menguburkannya kelak.
Seperti Nuh yang terisak menyaksikan anjing buduk kelaparan berjalan tersaruk-saruk; aku jauh dari itu. Aku bahkan tak ingin melihatnya. Aku menyerahkan ia pada nasibnya. Pada Tuhan dan kuasaNya.
Aku berharap ia dikubur karena seseorang merasa harus mengembalikannya ke bumi, bukan lantaran pemandangan menjijikkan yang dilihatnya atau bau busuknya mulai menusuk-nusuk hidung.
Aku tak berniat melakukannya. Ke Jakarta ini, aku jauh-jauh datang bukan untuk itu. Aku ada kencan buta dengan Diani, perempuan cerdas yang kukenal lewat e-mail. Ini pertama kalinya kami janji bertemu. Ia telah menungguku di sebuah mal. Aku diburu waktu.
Posted at 10:35 am by Lian_H_Bahar
Permalink
Sep 12, 2004
Maka Auguzta melangkah hati-hati sambil merentangkan dua tangannya yang melakukan gerakan bergelombang bagai burung yang baru saja membuka sayap – mengepak-ngepakkan, bersiap-siap hendak terbang. Dia sendirian di dataran tinggi. Terbenam di tengah-tengah hamparan kebun teh nan luas. Untuk sampai ke sana, dia harus menembus kabut yang turun menyelimuti hutan cemara. Segalanya menjadi lengkap. Pohon-pohon teh menangisi kesepian Auguzta. Kabut menyambut dingin kesendiriannya.
“Aku lelah sekali,” kata hatinya. “Juga haus,” seperti tak mau kalah, mulutnya bergumam lirih. Auguzta duduk di tanah melepaskan penat. Dia lihat sekelompok kumbang kepik berpunggung hitam berhiaskan polkadot-polkadot merah yang tak beraturan besar kecilnya terbang mengelilingi daun-daun teh tak jauh darinya. Polkadot merah itu membuat kepik-kepik begitu lucu menggemaskan. Auguzta rasakan gundah hatinya sedikit-sedikit berkurang.
Dia lepaskan dan dibongkarnya ransel yang selama hampir tiga jam terus membebani tubuhnya. Ransel itu berisi kebutuhan-kebutuhan di gunung yang telah dia persiapkan dari rumah. Dia keluarkan sebungkus rokok, sebuah pemantik api, dan dua buah termos berisi kopi panas dan es batu yang telah dipecah-pecah menjadi bongkahan-bongkahan kecil. Dia tuangkan kopi mengisi setengah takaran pada tutup termos yang kini beralih fungsi jadi cangkir. Dia tambahkan bongkahan-bongkahan es hingga tutup termos penuh. Setiap kali minum kopi selalu diceburkannya beberapa bongkah es ke dalamnya. Dia biarkan beberapa lama supaya kopi dan es menyatu, sampai bagian luar tutup termos mengembun.
Diteguknya asap rokok dan segelas kopi hitam pekat sangat manis itu sampai tandas menyisakan es bercampur ampas di dasarnya. Jantungnya berdebar-debar. Dug-dug-dug-dug-dug. Setiap kali minum kopi dadanya selalu bergemuruh. Berjam-jam kemudian, di kamar mandi pemetik teh ketika buang air kecil, Auguzta memahami mengapa urine yang keluar tidak begitu saja berwarna hitam seperti kopi.
“Proses. Lewat proses. Bukankah begitu?” Auguzta bicara kepada kumbang-kumbang kepik yang kini mendekatinya. Katanya lagi, “Jangan mengikutiku! Aku mau kembali turun. Dan rumah kalian di sini. Sampai jumpa, teman-teman!” Tetapi serangga-serangga kecil itu masih saja berputar-putar dekat-dekat dengan dirinya. Beberapa malah hinggap di bajunya, seolah ia magnet yang menarik serbuk-serbuk besi. Auguzta mengibas-ngibaskan bajunya mengusir teman-teman barunya itu. Merasa ditolak, kepik-kepik itu mulai terbang menjauh meninggalkannya.
Terkenang-kenanglah Auguzta akan masa lalu yang sudah lewat bergegas dari hadapannya (tapi Auguzta berupaya melanjutkan hidup saat ini dan seterusnya masa depan menantinya di tahun-tahun mendatang, sisa umurnya yang entah kapan usai). Tidak ada yang bisa diperbaiki lagi.
“Auguzta, kau harus membawaku lari dari kekuatan melingkar yang magis membelit diriku,“ pinta Fatima. “Percuma saja merubahnya. Percuma saja.”
“Kemana?”
“Terserah kau.”
“Baiklah. Entah kemana nanti. Semoga Tuhan berencana sangat indah untuk hidup kita.”
Fatima menjatuhkan kepalanya di dada Auguzta. Auguzta membelai-belainya. Kian rebah kepala itu dalam pelukannya.
“Apakah ini ketidakberdayaan, Auguzta?”
“Bukan. Ini bukan ketidakberdayaan.”
Adalah waktu yang paling dibenci Auguzta di dunia ini. Waktu sangat mudah merubah sesuatu. Kepada dikehendakinya waktu bisa menentukan akan dirubahnya secepat melesat pesawat terbang di angkasa atau perlahan-lahan bagai detik jam yang dihitung satu-satu. Dan itu yang tidak disukainya.
Celakanya, dia merasa ikut berubah. Malah dalam beragam komitmen. Dia tidak sanggup membendungnya. Jika sedang datang menyerang, seolah terjadi ledakan dahsyat di otaknya – menjalar ke seluruh tulang dan menghancurkan tubuhnya menjadi serpihan-serpihan kecil. Berhamburan terlempar. Berserakan. Dia menghirup udara kematian. Mungkin itu satu-satunya gangguan dalam hidup Auguzta yang belakangan terlalu sering merecoki ketenangannya. Tidak pernah dia menyangka sebelumnya. Tadinya dia kira dirinya tak akan berubah setelah memilih dan memegang prinsip tertentu.
Bersama Fatima, Auguzta merasa dia harus menikahi perempuan itu selekas mungkin segera setelah dia mendapat pekerjaan – mempunyai penghasilan tetap – berkemampuan mengongkosi kehidupan sebuah keluarga: “aku, Fatima dan seorang anak (seperti yang aku inginkan) atau empat orang (seperti keinginan Fatima),” tulisnya pada surat yang dikirimkannya untuk seorang sahabat. “Betapa bahagianya kami.”
Dibangunlah rencana-rencana menyusul angan-angan yang penuh di kepalanya, membuat dia suka melamun dan tersenyum-senyum sendiri. “Sungguh mencintai itu menyejukkan,”batinnya. Rencana-rencana itu realistis. Mempertimbangkan segala kemampuan yang dimilikinya, tidak muluk dan penuh perhitungan. Rencana laki-laki kebanyakan menyangkut pasangan jiwa.
Delapan tahun kedekatan mereka (“eh, benarkah kedekatan, bukannya kebodohanku?” Auguzta ragu-ragu) hanya memberi arti kesia-siaan karena terbukti kemudian cenderung memunculkan perasaan tidak nyaman di antara keduanya.
Tidak mesti persis begitu, sebuah hubungan memang akan berhenti suatu saat. Disudahi. Itu hanya soal waktu.
Perpisahan. Kematian. Bukankah hanya tinggal menunggu datangnya saja?
Semuanya berantakan. Sederhana saja, ternyata Fatima tidak pernah mencintainya, Auguzta memastikan. Baru kini dia menyadarinya.
“Kita harus berpisah, Auguzta.”
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin kita bertengkar. Ada hal-hal yang tidak harus aku ungkapkan kepadamu, bukan? Aku menemukan orang lain! Hanya itu yang bisa aku katakan saat ini.”
Untuk pertama kalinya mereka berpisah tanpa Auguzta menoleh ke belakang sebentar, memandangi wajah Fatima seperti yang selama ini selalu dia lakukan. Tapi Auguzta tahu Fatima kehilangan, melambai-lambaikan tangan sangat tulus ke arahnya. Untuk pertama kalinya Auguzta menetapkan hati untuk tidak menikahi siapa pun, kecuali waktu merubahnya kembali.
Bahwa kekuatan magis melingkar yang membelit sekelilingnya adalah ternyata ciptaan Fatima sendiri. Ketika saatnya Fatima mengejutkan dengan pengakuannya (Auguzta sangat terpukul karenanya), Auguzta yakin sesungguhnya delapan tahun otaknya bodoh hatinya ikhlas dalam sebuah labirin abstrak dibelit-belit kekuatan magis melingkar yang membayangkannya saja dia tak ingin. Aku menemukan orang lain. “Oh iya, itu memang jelas-jelas bukan ketidakberdayaan tapi strategi brilian melepaskan diri!” Plok-plok-plok-plok-plok-plok-plok....! Auguzta bertepuk tangan. Sebuah standing ovation (hampir empat menit lamanya).
Auguzta menikahi ketidakpastian, abadi menyatu bersetubuh bersama keingintahuan, tidak ada yang lebih menggembirakan, tidak ada yang lebih menyakitkan.
Indramayu,
Untuk Antonius Agus Arianto (Terima kasih pernah menyelamatkan hidupku)
Posted at 04:57 pm by Lian_H_Bahar
Permalink
LANGIT, AWAN-AWAN, IBU DAN RAHIMNYA, AKU…
Dari dulu sejak masih kanak-kanak, aku sudah mulai suka memandangi langit. Mendongakkan kepala ke atas. Mencari Tuhan. Benakku berpikir, pasti Tuhan berada di tempat paling puncak. Sebab, dengan begitu leluasalah Ia memperhatikan dan mengatur putaran kehidupan ciptaan-ciptaan-Nya nun di bawah di dunia maya.
Langit jauh lebih tinggi dibanding gedung-gedung bertingkat, menara, mercu suar, hutan bambu, candi, monumen, tiang bendera, bukit, atau deretan pegunungan. Tiap kali sedang di alam bebas, dengan sendirinya sepasang mataku mengarah ke langit, tempat tertinggi di dunia.
Langit selalu berubah-ubah. Perlambangan dari tampakan wajah Tuhan. Langit kadang kosong melompong. Namun sering kali penuh bintang. Terkadang ia hanya digelayuti matahari. Terkadang cuma diisi bulan. Terkadang ia sangat menakjubkan. Didului sinar terang sekejap yang menjalar menuju bumi, langit mengeluarkan suara bergemuruh amat dahsyat yang memekakkan membuat jantung berdegup lebih kencang. Membuatku begitu terpukau. Tertutup hujan yang ditumpahkannya, langit menjadi hitam pekat. Langit pun bisa abu-abu. Hitam bercampur abu-abu. Merah. Ungu. Kuning. Hijau. Oranye. Atau putih. Atau paduan gradasi warna-warna. Tapi tentu saja, langit yang birulah yang selalu jadi favoritku. Dan, maha suci Tuhan, Ia lebih sering tampil dengan tampakan langit biru. Di musim penghujan seperti sekarang ini sekalipun. Apalagi jika langit biru itu dihiasi awan-awan yang bergumpal seputih kapas seputih salju. Membuatku teringat sebuah lagu yang dulu sering disenandungkan ibu,
Kulihat awan, seputih kapas,
arak-berarak di langit luas.
Andai kudapat, ke sana terbang,
akan kuraih kubawa pulang.*
Awan bagiku mempertegas raut wajah Tuhan. Awan-awan itu ditiup angin ke sana ke mari ke segala penjuru langit, sekali-sekali mengumpul menyatu membentuk gambar-gambar sesuatu. Suatu ketika seekor lembu, manusia salju yang gendut lucu, angka-angka, balon-balon gas, badut, klenteng, kelinci, koala, pohon, gereja, atau ombak yang bergulung-gulung di samudera luas. Menikmati langit seperti itu, hatiku selalu berbisik, “Terima kasih Kau telah menempatkan aku di bawah sini dengan takdir seperti ini, Tuhanku!”
Sungguh-sungguh aku bersyukur pada Tuhan terlahir dalam keadaan begini. Setidaknya orang-orang tak gampang membaca pikiranku. Sesungguhnya Tuhan punya alasan tertentu. Sesungguhnya, Tuhan (Yang Maha Perfeksionis itu) telah merencanakannya bahkan sejak jauh lebih lampau dari saat aku masih berwujud partikel renik tanah yang ringan: di udara berterbangan dan sesekali lengket menempel jadi bagian dari zat tertentu sebelum aku dihembuskan bersama nafas ke dalam rahim ibuku.
Rahim ibu. Ibu. Betapa aku mencintaimu, ibu. Pernah kudengar ibu bercerita: pada suatu senja yang cerah, aku lahir begitu saja di kamar mandi saat ibu sedang mandi. Ketika harus setengah berlutut hendak mengambil sabun yang terloncat dari genggamannya karena licin, saat itulah aku meluncur keluar dari rahim ibu. Begitu saja meluncur. Ibu tak kesakitan. Ibu tak merasakan apa-apa kecuali darah yang deras mengalir membelah sela-sela pahanya. Refleks ibu meraih tubuhku sebelum aku terjatuh membentur lantai. Membalut aku, bayi mungilnya yang masih merah yang menangis tertahan, dengan selembar handuk. Mendekapku penuh kasih. Lalu ibu menjerit membangunkan bapak yang tengah rebahan di kamar; lelah sekembali dari bekerja. Usai memotong tali pusarku dengan gunting yang direbus lebih dulu, berdua mereka cepat-cepat membawaku ke rumah sakit. Setelah yakin aku nyaman terlelap dalam inkubator, ibu pingsan didera kelelahan yang amat sangat.
Ibu. Ibu. Beliau satu-satunya orang yang mampu mengerti sebagian besar keinginan dan perasaanku. Sampai seusiaku yang sekarang, beliau selalu memenuhi kebutuhan-kebutuhanku. Meladeni sifat manjaku. Menyiapkan makan minumku. Mencuci bersih-bersih pakaian-pakaianku sebab ibu tahu aku pembersih. Aku ingin selalu kelihatan rapi. Biar baju-baju dan celana-celanaku banyak yang telah pudar warnanya karena usang, ibu selalu mencuci dan menyetrikanya, membuatnya kembali rapi sehingga tak pernah aku mempermasalahkannya. Yang aku mau, pakaian-pakaianku harus menebarkan aroma kesegaran. Tak mesti wangi. Tapi harus segar.
Aku juga harus mengenakan kaos kaki dan bersepatu kalau ke luar rumah. Sedekat apa pun jaraknya. Ibulah yang mengajariku. Dan itu akan selamanya kuturuti.
Ada benda yang sangat kusayangi: sebuah ikat pinggang kulit. Telah puluhan tahun melilit di pinggangku. Menahan celana agar tak kedodoran. Tanpa sengaja, karena aku terlalu kencang menariknya, ikat pinggang itu terputus. Memang, benda kesayanganku itu telah retak-retak dan pecah-pecah kulitnya. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku begitu sedih membayangkan, aku – yang dikenal perapi itu, dilihat orang-orang tanpa ikat pinggang menahan celanaku. Segera ibu membujukku. Memegang tanganku seraya berkata, “Ibu akan pergi mencari gantinya. Kau, bersabarlah sejenak, Anakku.” Dibelainya ubun-ubunku. Diciumnya lembut keningku.
Waktu kembali, ibu membawakan ikat pinggang baru yang persis sama dengan punyaku, ditambah bonus belimbing, buah kesukaanku, sekantong plastik penuh yang besar-besar lagi manis-manis rasanya. Seketika aku berhenti menangis. Menukarnya dengan senyuman paling menawan yang pernah dipamerkan wajahku. Ah, ibuku itu. Beliau benar-benar memahamiku.
Teman! Namaku Ibak. Atau sebut saja aku begitu karena cuma bunyi itu yang kuingat kalau orang-orang menyapaku. Ibu yang pertama menyebutku dengan panggilan itu. Di keluargaku, aku anak tunggal. Anak bapak dan ibuku satu-satunya. Usiaku kini hampir 34 tahun dengan berat badan normal dan tinggi tubuh tak lebih dari 140 cm. Pendek memang, di bawah rata-rata. Barangkali itu disebabkan karena aku hanya selama menjelang 8 bulan berada di dalam rahim ibu. Ya, aku bayi terkecil di rumah sakit saat itu. Hanya aku yang lahir prematur. Beberapa waktu aku mesti hidup di dalam sebuah kotak kaca yang hangat dengan selang-selang yang disambungkan ke hampir seluruh bagian tubuhku. Pertumbuhanku terhambat. Wajahku punya satu ciri yang sama dengan orang-orang senasib: mata yang kosong pandangannya. Aku juga mengalami kesulitan berbicara, melafalkan huruf-huruf. Lebih dari sekedar disleksia. Aku tak pandai tulis baca. Tapi aku tak sedungu yang Kalian kira. Aku hanya susah menunjukkan perasaanku. Aku hanya sukar berkonsentrasi.
Beberapa tahun setelah kelahiranku, akhirnya tim dokter yang merawatku mengabarkan diagnosa mereka kepada orang tuaku. “Janganlah berkecil hati. Kemungkinan besar anak Bapak dan Ibu menderita down syndrome. Kita harus bersama-sama memantau perkembangannya. Dia membutuhkan perhatian yang lebih dari kedua orang tuanya, dari Bapak dan Ibu,” begitu penjelasan salah seorang anggota tim itu.
Demi mendengar itu, bapak menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali kuat-kuat. Jelas ia sedih. Tapi tak nampak garis kecewa di wajahnya. Ibu menanggapi dengan ekspresi wajah yang tak berubah sama sekali. Ia hanya mengangguk-angguk, paham penjelasan dokter.
Tahun lalu, di ulang tahunku yang ke-33, ibu membuatkan nasi tumpeng yang lezat untukku. Dan bapak memimpin doa yang kami panjatkan bertiga, mengucap syukur atas segala yang telah dilimpahkan Tuhan untuk keluarga kecil kami. Setelahnya, ibu memberikan nasehat kepadaku. Aku dipeluknya erat-erat, bagai seorang gadis yang tak ingin kekasihnya pergi jauh-jauh.
“Tatap mataku. Tatap mataku, Nak.” Ibu melepaskan pelukannya. Kedua telapak tangannya pelan menepuk-nepuk pipiku. Sorot matanya jauh menembus ke dalam mataku.
“Kau tahu, Anakku. Aku tak pernah menyesal telah melahirkanmu. Begitu pula Bapakmu. Aku, kami, tak pernah memperlakukanmu sebagai seorang idiot. Dugaanku, sebetulnya kau seorang jenius. Bisa kulihat itu dari tingkah lakumu. Sikap-sikapmu. Bagaimana kau menunjukkan isi hatimu. Bagiku kau sama briliannya dengan Einstein, Isaac Newton, Affandi, Habibie, Anatoly Karpov, Rudi Hartono, Sergey Bubka, Kahlil Gibran, atau Da Vinci.
Sesungguhnya Nak, tipis batasan semua yang berlawanan, semua yang berseberangan, semua yang bertolak belakang. Semua anomali. Seperti juga jenius dengan idiot, begitu pula tawa dan tangis. Bukankah tak melulu tangis berarti kesedihan? Tangis sangat mungkin berkonotasi bahagia, Anakku. Begitu pula hitam-putih, kaya-miskin, bajingan-pahlawan, pecundang atau pemenang, pahala dan dosa, kenyang dan lapar, baik-buruk, surga-neraka,... . Tergantung dari sisi mana kita memandang. Tipis, Nak. Tipis sekali.”
Berdebar jantung ini mencerna perkataan ibu. Darahku mengalir cepat-cepat berkejar-kejaran dalam pembuluh yang seakan hendak meledak, dipenuhi kebahagiaan. Ingin rasanya menyemburkan kalimat-kalimat yang sekian lama terpasung di dada, membebaskannya dari penjara di hatiku. Tapi apalah daya, aku tak kuasa. Aku hanya bisa mendengar suara hatiku, ”Ibu, andai saja dirimu tahu sepenuhnya pikiran-pikiranku... .”
Bandung, 30.12.03 – 01.01.04
Buat Ibak
(Aku harap kau sudi memberi sambutan, kelak, di pemakamanku)
* Aduh, mohon saya dimaafkan. Saya tak pernah secara pasti tahu judul lagu anak-anak itu dan siapa penciptanya, meski saya telah begitu suka menyanyikannya sejak TK.
Posted at 04:52 pm by Lian_H_Bahar
Permalink
Tanganku masih ber-handschoen1) ketika membersihkan 3 lembar kertas yang dilipat kecil-kecil. Kubuka hati-hati lipatan-lipatannya. Kertas-kertas itu masih utuh walau basah karena ludah dan darah.
Kulepaskan handschoen - kucuci bersih-bersih tanganku. Lalu aku keluarkan sebatang cokelat dari laci meja kerjaku, mengunyahnya pelan-pelan.
* * *
Dianiku,
surat ini aku buat untuk memenuhi hasratmu membaca tulisanku semata. Ah, tidak juga. Aku menuliskannya karena banyak hal. Seperti betapa kini cintaku padamu menggunung, atau menghilang begitu saja bagai cahaya matahari yang sirna kala hari memasuki malam (sumpah mati, aku menyesal, lalu lambat laun mulai mampu menyingkirkannya).
Seperti agar dirimu tahu begitu berhamburan pikiran-pikiran di kepalaku: kesombongan-kesombongan kecil yang seharusnya tidak perlu aku lakukan, keengganan hatiku menuruti mau ibuku (menetap di D), keinginanku menjadi seorang pedagang (atau petani), serta ketertarikanku secara misterius pada binatang.
Sampai di sini aku berhenti. Bergulat dengan hati dan otakku. Tak sampai tiga puluh detik kemudian aku putuskan untuk meneruskan membacanya, barangkali ada hal-hal penting yang bisa kutuliskan dalam laporanku.
Tentang yang kutulis terakhir itu, pasti karena setiap hari aku selalu menyempatkan diri mencandai anak kucing atau memberi makan angsa-angsa dengan melemparkan angsa-angsa itu jambu air merah segar yang kupetik langsung dari pohonnya di halaman belakang, dan kadang kala menu jambu air itu aku selingi dengan pisang yang kulitnya dikupas lebih dahulu (karena angsa tidak bisa mengupas kulit pisang sendiri). Kalau aku lupa – percaya atau tidak – anak kucing itu menggaruk-garuk pintu kamarku dengan kuku-kukunya sementara angsa-angsa berteriak-teriak memamerkan suara serak. Mungkin juga karena kedatanganku di rumah ini disambut seekor kalajengking sebesar telapak tangan laki-laki dewasa yang menyelinap masuk kamar diam-diam. Warnanya sangat indah: hitam mengkilat memancarkan sinar biru. Ia kuusir dengan sapu. Aku tidak punya nyali bermain-main dengannya.
Seperti itulah.
Seperti segalanya.
Setelah 8 tahun tidak menginjak tanahnya, sekarang hampir sebulan aku ada di D. Karenanya, merentangkan tangan lebar-lebar, persis ekspresi Ronaldo usai mencetak gol, yang pertama kali aku lakukan ketika sampai di kota ini. Membuka kaki dan dada. Menghirup udara dalam-dalam sambil memejamkan mata. Merasakannya memenuhi rongga dada. Merasakannya mengalir menyebar bersama darah ke seluruh tubuh. “Hmmm. Aku kembali ke tanah kelahiranku.”
Awalnya aku kira tidak banyak yang berubah. Tapi aku salah. Aku baru menyadari kekeliruan itu esok harinya. Ada 2 hal besar. Pertama, panas di D bertambah dahsyat. Bagai sengaja dicurahkan dari angkasa tanpa atmosfer dan dimuntahkan dari perut bumi. Aku merasa berada di gurun gersang. Kedua, kota ini menyebarkan bau amat menyengat dari sebuah pabrik di pinggir laut (bayangkan, di pinggir sebuah laut!) yang mengolah kelapa sawit. Menyesakkan paru-paru. Aku lantas mengurungkan niatku kelak suatu saat akan membawamu menetap di kota ini! (Kita cari kota lain saja! Kasihan anak-anak kita nanti!).
Namun begitu, makanan-makanannya masih membuatku berselera. Nasi bungkus terlezat se-Indonesia ada di kota ini.
Suasana kompleks perumahan yang kudiami sampai aku berumur 15 tahun - pernah aku ceritakan kepadamu sebagai yang terindah dibanding kompleks-kompleks perumahan lain yang sama-sama dibangun sebagai fasilitas perumahan pekerja oleh perusahaan minyak terbesar di negeri ini - yang letaknya 7 atau 8 km dari pusat kota (jadi bau menyengat kelapa sawit tidak sampai tercium), yang dulu aku tinggalkan, masih tetap aku suka. Hutan-hutan di sekelilingnya tetap rimbun. Hijau. Masih banyak monyet-monyet dan burung-burung di situ. Sarana-sarana olahraganya masih layak pakai walau agak kurang terawat. Aku bermain tenis lapangan dengan seorang kawan pada suatu pagi.
Aku pun menyempatkan menengok rumah-rumah (semuanya ada 3 rumah ) masa kecilku. Flamboyan di samping rumah pertama keluargaku yang dulu sering kupanjat batangnya, yang pada saat musim berbunga memancarkan warna merah – kuning - oranye, lebih terang dari cahaya matahari, masih tumbuh. Aku bicara padanya, “apa kabar, Flam?“ dan daun-daun pun bergoyang. Aku tahu, walau tua, ia baik-baik saja. Kami bercerita cukup lama, kebanyakan tentang masa lalu, sampai akhirnya pundakku ditepuk-tepuk daunnya sebelum kutinggalkan ia.
Ada satu rumor pada masa kecilku: sebuah helikopter terhempas ke kolam tidak jauh dari rumahku. Kolam itu tidak terlalu besar. Di permukaannya ada jaringan pipa air minum berukuran raksasa. Tapi, aku dan teman-teman menganggapnya sebagai bangkai helikopter yang jatuh tercebur di sana!
Tempat itu aku datangi. Pipa raksasa masih terlihat gagah biarpun dimakan karat. Air sudah tidak menutupinya lagi (artinya, permukaan air sudah tidak setinggi dulu). Ini memungkinkan aku berjalan di atasnya meniti dari satu ujung ke ujung yang lain. Tidak aku temukan bangkai helikopter. Bodohnya, aku tetap berharap melihat baling-baling. Yang aku temukan malah sepasang capung sedang kawin (sambil terbang dan sesekali hinggap di ilalang) – kemudian dari dalam air dan diantara ilalang, beratus-ratus capung bermunculan terbang berputar-putar mengganggu kedua capung yang mabuk kepayang itu. Aku berkesimpulan bahwa helikopter itu memang ada, namun musnah menjelma capung-capung! Aku sendiri sulit mempercayai kesimpulan tolol macam apa yang telah kuambil, tapi itulah yang terjadi.
Aku harus pergi dari kota ini sebab bukan di sini hidupku. Niatku mengulang beberapa kenangan saat kecil tuntas sudah. Itu cukup. Aku tak ingin kembali lagi.
Surat ini aku buat saat aku meyakini hidup menyenangkan rasanya, walau hingga saat ini aku belum juga dapat kerja, sehingga saat meminang dirimu, lantas menikah, menjadi tambah tidak pasti: entah kapan? (tapi Tuhan memperhatikan kita). Aku akan puas dengan hal-hal kecil.1 2)
Aku ingin berbagi cerita denganmu. Tentang Wimar, pemandu talk show terkenal yang ulang tahunnya sama denganku itu. Tentang pertunangannya. Tentang kedatangan Suvat (nama yang bagus), kekasihnya, seorang Thailand, ke Jakarta. Dengan penuh kerinduan, Wimar menyiapkan penyambutan khusus buat sang buah hati. Sepasang cincin polos pertunangan sudah siap di kantongnya. Menurut Wimar, cincin itu dibeli dengan duit pinjaman temannya. Selanjutnya, Wimar meminjam mobil kakaknya untuk menjemput Suvat ke Bandara Halim Perdanakusumah. Dalam perjalanan pulang, di tengah keramian jalan Sudirman, Wimar sengaja menghentikan mobilnya di pinggir jalan, khusus untuk memasukkan cincin tunangan ke jari manis kekasihnya…….2 3)
Surat ini aku buat tanpa mengirimkan ke alamatmu. Akan kuserahkan langsung ke tanganmu. Masihkah halus?
Surat ini kubuat untukmu, Diani.
(panasnya minta ampun!)
Salam,
Auguzta
1 Goenawan Mohamad, Tempo, 7 Mei 2000.
2 Femina, 23 - 29 Maret 2000.
* * *
Surat ini selesai kubaca waktu kugigit potongan cokelat terakhir. Aku menemukannya tersangkut dalam tenggorok sesosok mayat yang baru saja diantarkan petugas kepadaku dan harus segera dibuatkan laporan tentang kematiannya. Seluruh tubuhnya membiru, bekas pukulan dan tendangan. Lebih-lebih wajahnya. Sebagian kulitnya hangus terbakar. Ia ditemukan tewas dalam kerusuhan, buntut demonstrasi buruh-buruh sebuah pabrik tekstil yang menuntut kenaikan upah berubah menjadi bentrokan hebat dengan polisi.
Apa yang harus aku tuliskan? Laporan yang seperti biasa?
Aku yakin ia bahagia sebab berhasil menyelamatkan surat yang sekarang ada di tanganku. Aku merasakan itu.
Kepada siapa surat ini harus aku berikan? Keluarganya? Tentu saja! Itulah pilihan terbaik!
Sejak krisis melanda negeri ini, keadaan memaksaku menjadi orang yang tak harus ambil peduli pada orang lain. Namun kali ini, entah kenapa, aku begitu ingin surat itu sampai ke tujuannya. Hanya kali ini!
Aku tak ingin lagi disibukkan dengan pikiran-pikiran harus berempati pada orang lain. Masih terlalu banyak masalahku sendiri yang harus kuselesaikan!
Ia masih terbaring telanjang tak jauh dariku. Aku mendekat. Akan kututup tubuhnya dengan kain putih yang memang disediakan untuk itu. Kulirik ia. Kulihat matanya berkedip pelan kepadaku.
1) Handschoen ( Belanda) = Sarung tangan terbuat dari karet, dipakai dalam bidang kedokteran, biasanya saat operasi/tindakan bedah.
Mudah-mudahan keterangan ini bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, karena hanya ditanyakan melalui telepon kepada seorang teman perawat yang langsung menanyakannya lagi ke seorang ahli bedah.
2) Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir, Tempo 7 Mei 2000, hal. 146.
3) Serial: Wimar Witoelar, Femina, 23 – 29 Maret 2000, hal. 73.
Posted at 04:46 pm by Lian_H_Bahar
Permalink
|
 |
|
|
|
|