Benar-benar saat terakhir, turun dari pesawat terbang menuju mobil jemputan, tak dijumpainya lagi perempuan itu. Mungkin dia sudah turun duluan, pikirnya. Sorot mata cerdas gadis 9 tahun pendiam berkulit putih amat dikenalnya itu, ia lihat terakhir kali dalam kokpit hercules yang menerbangkan mereka berpuluh-puluh tahun yang lalu. Setangkai anyelir mungil diselipkan di telinga kiri si gadis. Ungu.
Mereka duduk bersebelahan satu kelas di salah satu kelas 3 sebuah SD di kota kelahirannya. Laki-laki itu suka mencuri-curi pandang. Ada sepasang pipi bersih yang selalu ingin dikaguminya tiap pagi. Ada sepasang mata yang akan malu-malu menatap kembali, namun justru menyebabkan ia beralih melihat ke meja sambil berpura-pura menuliskan sesuatu di halaman-halaman buku tulis bergaris. Mereka tidak pernah bicara kecuali “pinjam penghapusnya” atau “terima kasih, ya“ saat ia harus menghapus tulisan yang salah dan mengembalikan karet penghapus milik gadis itu. Laki-laki itu tak pernah mau membawa karet penghapus ke sekolah sepanjang tahun ajaran itu.
Seumur hidup aku memimpikannya, rupanya.
* * *
Seorang perempuan tua, 1,5 tahun yang lalu, membawakan seikat kembang putih susu - kemudian diketahuinya sebagai aster — mempercantik ruangan tempat ia dan suami perempuan tua itu dirawat. Kembang mulai layu, kembang segar baru dibawakan.
Aku merasa memiliki kekuatan untuk sembuh segera.
Sebulan kemudian suami perempuan yang lemah lembut itu meninggal dunia.
* * *
Dipaksanya pagi itu ibunya yang gila tanaman membeli sekuntum anyelir dan sekuntum aster. “Jangan! Jangan cuma sekuntum, Ma. Sekalian pohonnya. Biar aku merawatnya.”
Posted at 11:12 am by Lian_H_Bahar