Sep 23, 2004
BUNGA-BUNGA

 

Benar-benar saat terakhir, turun dari pesawat terbang menuju mobil jemputan, tak dijumpainya lagi perempuan itu. Mungkin dia sudah turun duluan, pikirnya. Sorot mata cerdas gadis 9 tahun pendiam berkulit putih amat dikenalnya itu, ia lihat terakhir kali dalam kokpit hercules yang menerbangkan mereka berpuluh-puluh tahun yang lalu. Setangkai anyelir mungil diselipkan di telinga kiri si gadis. Ungu.

Mereka duduk bersebelahan satu kelas di salah satu kelas 3 sebuah SD di kota kelahirannya. Laki-laki itu suka mencuri-curi pandang. Ada sepasang pipi bersih yang selalu ingin dikaguminya tiap pagi. Ada sepasang mata yang akan malu-malu menatap kembali, namun justru menyebabkan ia beralih melihat ke meja sambil berpura-pura menuliskan sesuatu di halaman-halaman buku tulis bergaris. Mereka tidak pernah bicara kecuali “pinjam penghapusnya” atau “terima kasih, ya“ saat ia harus menghapus tulisan yang salah dan mengembalikan karet penghapus milik gadis itu. Laki-laki itu tak pernah mau membawa karet penghapus ke sekolah sepanjang tahun ajaran itu.

Seumur hidup aku memimpikannya, rupanya.

* * *

Seorang perempuan tua, 1,5 tahun yang lalu, membawakan seikat kembang putih susu - kemudian diketahuinya sebagai aster — mempercantik ruangan tempat ia dan suami perempuan tua itu dirawat. Kembang mulai layu, kembang segar baru dibawakan.

Aku merasa memiliki kekuatan untuk sembuh segera.            

Sebulan kemudian suami perempuan yang lemah lembut itu meninggal dunia.

* * *

Dipaksanya pagi itu ibunya yang gila tanaman membeli sekuntum anyelir dan sekuntum aster. “Jangan! Jangan cuma sekuntum, Ma. Sekalian pohonnya. Biar aku merawatnya.”

 


Posted at 11:12 am by Lian_H_Bahar

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments





Previous Entry Home Next Entry



   

<< September 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed