Sep 23, 2004
HANGUS

Saya suka hujan. Rasanya menyenangkan keluar di saat hujan turun. Hujan rintik, gerimis kecil, hujan lebat juga boleh. Mandi hujan dengan aktivitas dan misi lain seperti sambil bermain sepak bola, iseng agar rambut basah, jalan kaki dengan niat berolahraga, atau untuk alasan-alasan lain sering saya lakukan.

Buat saya hujan itu berkah yang mengucur dari langit. Begitu mendengar hujan turun, saya akan keluar dari rumah. Kapan saja. Saya tidak pernah merasa takut hujan. Bahkan hujan yang disertai kilat yang menyambar-nyambar di langit dengan gemuruh suara halilintar yang membuat jantung berdetak lebih hebat.

Pada dua malam menjelang Natal tahun lalu, hujan turun lebat. Lewat telepon saya kumpulkan beberapa anak tetangga yang umurnya empat atau lima tahun lebih muda,  bermain sepak bola di taman dekat rumah kami yang cukup teduh. Biasanya, hampir setiap sore mereka yang berteriak memanggil, “Bang Auguzta! Mau ikut main bola nggak?” Kali ini saya rayu sedemikian rupa, agar mereka sulit menolaknya. “Belum pernah main bola di tengah hujan malam-malam, kan? Pasti bakal jadi pengalaman yang seru. Pokoknya aku tunggu sekarang juga!” Saya letakkan gagang telepon tanpa menunggu jawaban.

Ada lapangan sepak bola mini yang kami buat di taman itu. Dua gawang kecil berseberangan serta beberapa batu buatan dari semen untuk duduk di sisi-sisinya. Pohon-pohon flamboyan dan pohon jarak tumbuh di sekelilingnya.

Gelap. Malam hampir habis satu jam lagi. Lebih dari dua jam sudah kami tertawa berlarian. Sangat asyik. Mengejar-ngejar dan menedang-nendang bola. Saling menghentakkan kaki ke rumput yang tergenang air hingga bercipratan menampar wajah. Basah. Dingin. Diam-diam saya kencing dalam celana. Kami berhenti ketika benar-benar lelah. Hujan pun ikut berhenti. Lalu istirahat sambil merokok dan bercanda sejenak. Kemudian pulang.

Sampai di rumah saya bersihkan tubuh di kamar mandi dengan sabun cair sambil tertawa-tawa sendiri membayangkan teman-teman dimarahi orang tuanya. Setelahnya bersiap-siap ke tempat tidur. Sebelumnya saya berdiri di depan cermin yang menempel pada lemari pakaian. Saya suka berlama-lama memandangi wajah di cermin sehabis “main hujan”. Manis sekali. Tak peduli apakah Kalian juga suka atau tidak. Saya tak ingin mempengaruhi Kalian. Benarkah? Hanya saya sendiri yang tahu jawabannya.

Malam itu, saya terlelap dengan hati yang amat bahagiardiri di depan cermin yang menempel pada lemari pakaian. Saya.

* * *

Siang ini aneh sekali. Siang paling berbeda sepanjang 23 tahun hidup ini. Saya malas melakukan apa-apa. Bahkan kuliah, rutinitas yang saya lakukan karena keterpaksaan, namun menggairahkan karena di kampus gadis-gadis modis menanti.

Siang yang sunyi. Sepi. Langit mendung. Hitam pekat. Akan segera turun hujan. Cuaca sekarang cepat berubah-ubah. Kadang panas menyengat, lalu dalam hitungan detik beralih menjadi angin yang bertiup kencang membawa gumpalan-gumpalan awan abu-abu. Musim yang membingungkan. Memang, alam sudah terlalu banyak diusik tingkah ganjil manusia.

Dari dalam kamar saya bersiap-siap keluar jika tiba-tiba hujan menetes dari langit. Telah saya ganti jins dengan celana basket pendek selutut.

Sekonyong-konyong hujan turun. Hujan yang langsung lebat. Sangat deras. Saya gembira.

Tapi lucu, keluar dari rumah tak saya jumpai manusia satu orang pun, padahal saya mengira akan melihat orang-orang berlarian menepi sambil melindungi kepala dengan apa saja, berteduh di mana saja agar tidak basah karena hujan. Dan akan saya tertawai mereka. Hujan ini milik saya.

Kaki saya bergerak menuju taman. Teman-teman tidak ada di sana. Oh iya, tentu saja mereka sedang belajar di sekolah. Sayang, Kalian tidak ada di sini. Melompat-lompat, teriak sekuat tenaga, lari kencang kemudian mendadak berhenti dengan menekukkan kedua kaki di rumput; membuat saya meluncur dan berguling-guling di sana – itu yang terjadi. Berjam-jam lamanya. Pohon-pohon, batu-batu, rumput, gawang-gawang, hanya diam menyaksikan.

Hujan bertambah deras. Kulit tubuh saya menjadi keriput. Saya memandang ke langit. Air hujan menyakiti mata, perih sekali rasanya. Saya tak bisa melihat apa-apa. Semua seperti kabur. Langit marah pada saya, tak ingin menampakkan wajahnya; saya tahu itu. Tapi sungguh, saya tidak menantang langit. Hanya ingin menikmati hujan. Membasahi sekujur tubuh dengan air yang diturunkan dari sana. Haruskah disudahi? “Tidak sekarang,” saya ambil keputusan. Dan senyum membentuk di bibir saya.

Tiba-tiba kilat menyambar-nyambar. Tiba-tiba langit bergemuruh. “Aku tidak menantangmu, Langit. Cuma ingin mandi airmu, masa’ tidak boleh!” saya menggerutu. Tiba-tiba kilat kembali menyambar. Terang. Mengenai saya yang masih berdiri, tepat di atas pelipis mata kiri. Rasanya seperti digigit semut. Seperti dicubit, sakit hanya sesaat, dan meninggalkan rasa selama beberapa detik di kulit. Ada lubang menganga di pelipis saya.

Saya sedih memikirkan banyak hal yang belum dilakukan seperti yang tertulis dalam buku kerja. Bahwa saya harus membersihkan kamar tidur yang kotor berdebu dan berantakan; besok mesti ke kampus menanyakan kelanjutan surat permohonan penggantian dosen pembimbing skripsi; mengembalikan disket dan foto-foto yang dipinjam dari bekas-pacar; menagih Parker pada teman yang menjanjikan akan memberikannya sebagai kado ulang tahun sejak dua bulan yang lalu; dan menanti telepon dari seorang gadis berbau maskulin menggoda karena parfum laki-laki yang disemprotkan tubuhnya.

Kemudian suara halilintar menyusul memekakkan telinga. Tubuh ini tak mampu lagi menginderanya. Terkapar di rumput. Hangus.

 

Palembang, 27,28 Sept dan 1 Okt ‘98


Posted at 11:45 am by Lian_H_Bahar

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments





Previous Entry Home



   

<< September 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed