 |

Sep 23, 2004
Saya suka hujan. Rasanya menyenangkan keluar di saat hujan turun. Hujan rintik, gerimis kecil, hujan lebat juga boleh. Mandi hujan dengan aktivitas dan misi lain seperti sambil bermain sepak bola, iseng agar rambut basah, jalan kaki dengan niat berolahraga, atau untuk alasan-alasan lain sering saya lakukan.
Buat saya hujan itu berkah yang mengucur dari langit. Begitu mendengar hujan turun, saya akan keluar dari rumah. Kapan saja. Saya tidak pernah merasa takut hujan. Bahkan hujan yang disertai kilat yang menyambar-nyambar di langit dengan gemuruh suara halilintar yang membuat jantung berdetak lebih hebat.
Pada dua malam menjelang Natal tahun lalu, hujan turun lebat. Lewat telepon saya kumpulkan beberapa anak tetangga yang umurnya empat atau lima tahun lebih muda, bermain sepak bola di taman dekat rumah kami yang cukup teduh. Biasanya, hampir setiap sore mereka yang berteriak memanggil, “Bang Auguzta! Mau ikut main bola nggak?” Kali ini saya rayu sedemikian rupa, agar mereka sulit menolaknya. “Belum pernah main bola di tengah hujan malam-malam, kan? Pasti bakal jadi pengalaman yang seru. Pokoknya aku tunggu sekarang juga!” Saya letakkan gagang telepon tanpa menunggu jawaban.
Ada lapangan sepak bola mini yang kami buat di taman itu. Dua gawang kecil berseberangan serta beberapa batu buatan dari semen untuk duduk di sisi-sisinya. Pohon-pohon flamboyan dan pohon jarak tumbuh di sekelilingnya.
Gelap. Malam hampir habis satu jam lagi. Lebih dari dua jam sudah kami tertawa berlarian. Sangat asyik. Mengejar-ngejar dan menedang-nendang bola. Saling menghentakkan kaki ke rumput yang tergenang air hingga bercipratan menampar wajah. Basah. Dingin. Diam-diam saya kencing dalam celana. Kami berhenti ketika benar-benar lelah. Hujan pun ikut berhenti. Lalu istirahat sambil merokok dan bercanda sejenak. Kemudian pulang.
Sampai di rumah saya bersihkan tubuh di kamar mandi dengan sabun cair sambil tertawa-tawa sendiri membayangkan teman-teman dimarahi orang tuanya. Setelahnya bersiap-siap ke tempat tidur. Sebelumnya saya berdiri di depan cermin yang menempel pada lemari pakaian. Saya suka berlama-lama memandangi wajah di cermin sehabis “main hujan”. Manis sekali. Tak peduli apakah Kalian juga suka atau tidak. Saya tak ingin mempengaruhi Kalian. Benarkah? Hanya saya sendiri yang tahu jawabannya.
Malam itu, saya terlelap dengan hati yang amat bahagiardiri di depan cermin yang menempel pada lemari pakaian. Saya.
* * *
Siang ini aneh sekali. Siang paling berbeda sepanjang 23 tahun hidup ini. Saya malas melakukan apa-apa. Bahkan kuliah, rutinitas yang saya lakukan karena keterpaksaan, namun menggairahkan karena di kampus gadis-gadis modis menanti.
Siang yang sunyi. Sepi. Langit mendung. Hitam pekat. Akan segera turun hujan. Cuaca sekarang cepat berubah-ubah. Kadang panas menyengat, lalu dalam hitungan detik beralih menjadi angin yang bertiup kencang membawa gumpalan-gumpalan awan abu-abu. Musim yang membingungkan. Memang, alam sudah terlalu banyak diusik tingkah ganjil manusia.
Dari dalam kamar saya bersiap-siap keluar jika tiba-tiba hujan menetes dari langit. Telah saya ganti jins dengan celana basket pendek selutut.
Sekonyong-konyong hujan turun. Hujan yang langsung lebat. Sangat deras. Saya gembira.
Tapi lucu, keluar dari rumah tak saya jumpai manusia satu orang pun, padahal saya mengira akan melihat orang-orang berlarian menepi sambil melindungi kepala dengan apa saja, berteduh di mana saja agar tidak basah karena hujan. Dan akan saya tertawai mereka. Hujan ini milik saya.
Kaki saya bergerak menuju taman. Teman-teman tidak ada di sana. Oh iya, tentu saja mereka sedang belajar di sekolah. Sayang, Kalian tidak ada di sini. Melompat-lompat, teriak sekuat tenaga, lari kencang kemudian mendadak berhenti dengan menekukkan kedua kaki di rumput; membuat saya meluncur dan berguling-guling di sana – itu yang terjadi. Berjam-jam lamanya. Pohon-pohon, batu-batu, rumput, gawang-gawang, hanya diam menyaksikan.
Hujan bertambah deras. Kulit tubuh saya menjadi keriput. Saya memandang ke langit. Air hujan menyakiti mata, perih sekali rasanya. Saya tak bisa melihat apa-apa. Semua seperti kabur. Langit marah pada saya, tak ingin menampakkan wajahnya; saya tahu itu. Tapi sungguh, saya tidak menantang langit. Hanya ingin menikmati hujan. Membasahi sekujur tubuh dengan air yang diturunkan dari sana. Haruskah disudahi? “Tidak sekarang,” saya ambil keputusan. Dan senyum membentuk di bibir saya.
Tiba-tiba kilat menyambar-nyambar. Tiba-tiba langit bergemuruh. “Aku tidak menantangmu, Langit. Cuma ingin mandi airmu, masa’ tidak boleh!” saya menggerutu. Tiba-tiba kilat kembali menyambar. Terang. Mengenai saya yang masih berdiri, tepat di atas pelipis mata kiri. Rasanya seperti digigit semut. Seperti dicubit, sakit hanya sesaat, dan meninggalkan rasa selama beberapa detik di kulit. Ada lubang menganga di pelipis saya.
Saya sedih memikirkan banyak hal yang belum dilakukan seperti yang tertulis dalam buku kerja. Bahwa saya harus membersihkan kamar tidur yang kotor berdebu dan berantakan; besok mesti ke kampus menanyakan kelanjutan surat permohonan penggantian dosen pembimbing skripsi; mengembalikan disket dan foto-foto yang dipinjam dari bekas-pacar; menagih Parker pada teman yang menjanjikan akan memberikannya sebagai kado ulang tahun sejak dua bulan yang lalu; dan menanti telepon dari seorang gadis berbau maskulin menggoda karena parfum laki-laki yang disemprotkan tubuhnya.
Kemudian suara halilintar menyusul memekakkan telinga. Tubuh ini tak mampu lagi menginderanya. Terkapar di rumput. Hangus.
Palembang, 27,28 Sept dan 1 Okt ‘98
Posted at 11:45 am by Lian_H_Bahar
Permalink
Banyak yang tidak saya suka darinya. Salah satunya, isi pembicaraan yang di dalamnya ada intonasi suara yang terdengar lucu, logat ramah yang aneh, monoton, lalu berakhir pada nada yang tinggi melengking, hingga sering menimbulkan kejenuhan mendengar di kuping.
Namun saya suka dia. Hampir gemuk. Berisi. Punya mata indah dan bibir sebelah atas yang sensual menggoda. Terbayang saat dia bicara memonyong-monyongkan bibirnya bersemangat pada kemampuan terbaiknya sambil matanya terpejam perlahan-lahan. Lembut. Mengatup dengan indah. Keduanya: mata dan bibir.
Saya juga tidak mengerti apa benar-benar suka dengannya. Barangkali yang terjadi sesungguhnya adalah saya sedang jatuh cinta. Bukan dengannya. Saya tak ingin mengingkarinya. Juga terlalu sombong untuk mengakuinya. Jadi kepada siapa? Mau tahu saja!
Apa yang harus disuka darinya? Atau demi alasan-alasan apakah?
Tak tahu secara pasti apa sebabnya dia begitu ingin ditemui. Yang utama saya kira, lukisan alam yang bisa dinikmati dalam perjalanan menuju rumahnya di pinggiran kota: ilalang hijau, coklat, kuning tumbuh di sepanjang jalan raya; kian jauh kian menjelma padang rumput luas yang indah - dan di atas, langit terkadang kelihatan bagaikan sedang berbahagia. Biru. Teramat bersih. Awan bergumpal mengiringi, bergerak memayungi.
Hal lain ialah, usaha menuju rumahnya. Berusaha rapi, sesuatu yang ingin saya lakukan tapi tidak sekarang. Harapan saya itu terjadi nanti-nanti. Saya menjadi begitu peduli pada diri sendiri. Seperti saat angin kencang yang panas menerpa dan menerbangkan rambut – saya merasa harus cepat-cepat kembali merapikannya menggunakan jari-jari tangan sebagai sisir. Dan itu mengejutkan, menyadari kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan istimewa.
Di rumahnya, biasanya ia selalu memaksa menuruti maunya: bercakap-cakap (sebetulnya saya lebih banyak mendengarkan) - duduk di bawah pohon jambu air yang tumbuh di halaman di sebelah sebuah sumur berbentuk kotak. “Mari kita ke “Perigi Persegi Empat”. Bicara tentang apa saja sampai bosan,” ia menamai tempat itu begitu. Sumur itu seperti menyimpan banyak misteri. Saya takut berada di dekat-dekatnya. Tapi, jika telah cukup lama tak berkunjung ke rumahnya, sering kali saya merindukan pertemuan kami di sana.
Walau insidental, bahagia bisa berkenalan dengannya di sebuah karnaval. Saya tidak peduli apakah saya penting buatnya. Semoga penting sebenarnya. Semoga juga tidak. Saya tak terlalu berharap. Hanya rasa malas membuat obsesi baru yang menyelimuti pikiran. Saya tak hendak menjadi gila.
* * *
Hore! Saya menemukannya! Kini saya tahu alasannya! Wajahnya! Keseluruhan! Karena, bagi saya, memang sulit menyembunyikan ketertarikan pada perempuan-perempuan berwajah sederhana. Menggairahkan.
Ia mungkin terlahir sebagai bidadari. Membuat mata ini enggan melihat ke arah lain jika kebetulan beradu pandang dengannya. Ada aliran listrik. Ada perangkap. Terasa rugi kalau harus lari dari pemandangan indah itu, namun perasaan malu akan muncul tiba-tiba begitu menyadari sangat tidak ingin menoleh ke arah lain.
Bulu-bulu matanya tersusun rapi. Jika terpejam, rebah pelan-pelan. Seperti apa, ya? Seperti sesisir pisang yang yang belum dimakan salah satu buahnya. Utuh. Atau seperti apa pun terserah. Jadi seperti saya pasti makhluk-makhluk lain yang mengaguminya: sangat subyektif. Persetan! Toh karenanya saya makin menyukainya. Ada yang ingin dilihat setiap saat. Tapi tidak mendengar ocehannya. Sudah saya katakan akan menimbulkan kejenuhan.
Ah, tak ingin menggambarkan detil wajahnya. Akan sangat menyiksa. Begini saja; saya suka wajahnya, menggilai jalan-jalan menuju ia, menyenangi bentuk tubuhnya yang mirip tipe saya (kalau saja ia mau sedikit lebih gemuk lagi!), namun tak menyukai isi bicaranya - lantas, apakah harus saya menghindar? Tidak. Saya tidak akan menghindar. Mungkin ia yang malah akan menghindar. Tidak apa-apa. Saya tetap selalu akan membayangkannya.
Palembang, 27,28 Sept dan 1 Okt ‘98
Buat: TY
(Seperti sebuah konfigurasi elektron.)
Posted at 11:44 am by Lian_H_Bahar
Permalink
Yang paling aku benci adalah jatuh cinta lagi. Bertingkah seperti dua orang bodoh[i]. Itulah sebabnya aku bersumpah tidak akan kembali menyerahkan hati ini pada siapa pun. Maksudku, pada perempuan mana pun. Aku tidak mau dan tidak pernah jatuh cinta pada lelaki. Laki-laki tak secuil pun membuatku bergairah.
Maka kuputuskan menumpahkan segala perhatianku pada kaktus. Tanaman yang termasuk famili cactaceae ini, selain memiliki bunga-bunga cantik yang tersembunyi di antara duri-duri, juga unik. Mahkota bunganya ternyata tak berkelopak. Tapi, tentu, bukan itu saja keistimewaannya. Terlalu banyak penyebab ketertarikanku pada kaktus: sejarahnya, tata cara membiakkan dan cara merawatnya. Bagaimana kaktus yang berasal dari benua Amerika terbentang dari USA di utara hingga Argentina di bagian selatan, mampu beradaptasi menghuni padang pasir yang sangat panas dan kekurangan hujan, daerah pegunungan Andes yang sangat dingin dan bersalju, dan di padang-padang rumput yang hujannya sedikit dengan suhu udara yang tinggi itu dibawa oleh orang-orang Belanda untuk makanan ternak sapi di daerah-daerah yang sering dilanda kekeringan seperti Madura, Lombok Timur dan Palu. Tapi sapi-sapi Indonesia ternyata tidak sama dengan sapi-sapi Belanda. Sapi-sapi tersebut tidak menyukai batang kaktus. Kaktus tumbuh menjadi gulma, menjelma hutan-hutan yang luasnya ribuan hektar, menyempitkan areal dan merusak ladang pertanian. Namun, masih banyak penggemar kaktus yang tetap memeliharanya di pekarangan-pekarangan sebagai tanaman hias.
Merawat kaktus membuatku lupa segalanya. Karena tumbuhnya relatif lamban, butuh kesabaran sampai akhirnya berdebar-debar suka-cita, bahagia ketika menikmati bentuknya yang indah menampilkan bunganya[ii].
Tapi jujur, bukan karena alasan itu saja aku tidak ingin lagi mencintai seorang perempuan. Aku sadar betapa perempuan memesona. Aku mengagumi mereka. Tentu Tuhan sudah memperhitungkan dengan matang sebelum menciptakan Hawa, menjadikan ia salah satu karya agung hasil kreasiNya: lekuk sempurna diimbangi perangai menggemaskan yang cepat berubah, tak bisa diduga. Mendesakku berkeinginan lebih intim mengenal, jauh menyelam ke dasar hati mereka. Tidak ada yang lebih indah dari perpaduan itu. Percayalah!
Perempuan juga misterius. Saat tidak begitu tanggap akan keinginannya, mereka malah meminta. Seperti memohon. Di sisi berbeda, ketika mati-matian mempertahankannya, mereka justru menjauh. Bahkan melepaskan diri.
Itu yang kualami. Delapan tahun aku pernah pacaran dengan seorang perempuan yang menurutku sungguh sempurna. Coba, delapan tahun! Namun ia memilih meninggalkanku sesaat menjelang pernikahan kami. Sementara perempuan lain, kini ia telah menjadi seorang dokter muda yang sedang PTT di sebuah desa terpencil, harus aku tinggalkan. Hubunganku dengan keduanya sekarang sangat tidak menyenangkan. Kikuk. Serupa pertemuan pertama dua orang yang asing satu sama lain. Penuh curiga! Tolol, bukan?
Jika ingat semuanya perasaan ini tidak menentu. Ah, sudahlah. Toh semuanya telah lewat. Tak bernafsu aku membicarakannya. Biarkan itu menjadi bagian dari kenangan di otakku. Cengeng, sepertinya. Tapi andai mengalami, pasti bisa memahami.
Segala janji dalam diri sendiri itu kemudian kuingkari begitu saja. Gara-gara rambut! Ya, rambut!
Perempuan satu ini biasa-biasa saja sesungguhnya. Perawakannya yang sedang, wajah manis, kulit sawo matang pekat, rambut panjang hitam terjurai, diselimuti cara berpakaian yang selalu etnik. Tetapi harus diakui: garis melengkung aneh menggoda di bibir atasnya, alis tebal yang tidak dicukur atau ditato membentuk suatu pola tertentu di atas sepasang bola-bola mata yang selalu berbinar (saat dia tertawa, mata yang menyipit menjadi sebuah garis lurus itu tetap saja memancarkan cahaya di setiap sudutnya), dan bentuk hidung yang teramat indah bila diperhatikan dari samping; harusnya bisa kucermati saat pertama kali bersitatap.
Sikap-sikapnya pun seperti kebanyakan lainnya: cara berbasa-basi yang alami dengan senyum selalu mengembang di wajah riang, antusias memberi perhatian, simpati mendengarkan, piawai menyembunyikan perasaan uflaseari tentara yang biasa brngaegin, saat kami baru saja terbangun dari tidur yang tak nyenyak, ah pucuksebagi. Mahkota lebih terampil dari tentara yang biasa berkamuflase.
Pengalaman tragis membuatku selektif memilih kalau ingin dekat-dekat perempuan. Dekat sebagai teman, tentu saja! Tidak lebih! Jadi lumrah jika aku tak terlalu terpesona pada awalnya.
“Aku menyebutnya ‘hair revolution,’ tulisnya membalas SMS yang kukirimkan padanya.
Sepanjang mengenalnya, gadis itu selalu tampil dengan potongan rambut sepinggang menutup penuh punggung. Suatu sore ketika aku sedang asyik ngobrol dengan Adit, sahabat baikku, lesehan di sebuah toko buku independen tempat kami sering berdiskusi, mendadak dia muncul dengan model rambut mutakhirnya: pendek! Basah karena gel, runcing berdiri bagai duri-duri kaktus! Tiga buah jepit rambut mungil berwarna-warni terselip di sana. “Haiii…!” setengah berteriak ia menyapa.
Belakangan menyimak omongannya, dia potong rambutnya demikian karena ingin mengejutkan orang-orang yang dikenal saat melihat penampilan terbarunya. Menurutnya lagi, dia menikmati keterkejutan orang-orang itu. Dan dia berhasil!
Aku hampir terloncat dari dudukku menyadari kehadirannya. Gadis itu! Cantik sekali dia! Persis kaktus jenis rebutia kesukaanku. Jepit rambut-jepit rambut warna-warni itu bagai bunga-bunga yang muncul mengelilingi batang, beberapa cm di bawah pucuk! Aku tak bisa berkata-kata. Begitu pula Adit, tak kalah kagetnya.
Dalam diskusi-diskusi serius kami tentang hidup, sastra, Tuhan, perempuan, dan sepak bola; namanya tak pernah sengaja kami susupkan sebagai penghangat diskusi. Secara sadar kami tidak menganggapnya sangat menarik, seperti seringnya kami memperbincangkan Sandrina Malakiano, atau Venita Daben, atau Sarah Sechan atau Angelique Widjaja sebagai contoh perempuan-perempuan menarik berambut pendek. Entahlah. Dari dulu aku memang lebih suka pada perempuan berambut pendek. Lebih-lebih kalau potongannya seperti laki-laki (tapi tidak model crew-cut ala militer.)
Kupikir, aku jatuh cinta saat itu juga. Ingin rasanya menghunjamkan pisau kebunku - merobek-robek rongga dada - mengeluarkan hatiku - memberikan padanya, andai mungkin. Cepat sekali rasanya, belum kunjung puas aku menikmati keindahan yang ditebarkannya, dia lenyap dari pandangan. Tidak bisa kutahan hasrat mengomentari kecantikannya.
Aku SMS dia. Kukatakan bahwa aku terkesima pada penampilannya yang luar biasa menakjubkan karena rambut barunya itu. “Nadya, cantik sekali kamu! Memukau! Rambutmu itu lho….”
Nadya membalas pesan itu dengan elegan, mengucap terima kasih atas kekagumanku dan tak lupa menambahkan: “jangan terlalu berlebihan memuji” juga tidak yakin akan terlihat sememukau itu kali yang lain. Hmmm…. “Hair revolution.” Untukku itu juga sekaligus “special edition”.
Semenjak itu aku bertekad menjadikan dia tidak cuma sekedar seorang teman. Dia harus menikah denganku!
“Bunga apa yang kamu suka, Nadya?” aku bertanya di satu kesempatan saat bertandang ke kosnya, ingin tahu lebih jauh tentang dirinya. Tengah sibuk dia menyusun kepingan-kepingan puzzle bergambar pemandangan malam hari sebuah kota di Eropa yang dipecah seribu.
Tulang lehernya bergerak mengangkat wajahnya melihat ke arahku. Nadya tersenyum. Konsentrasinya pindah dari kertas karton-kertas karton kecil yang bertaburan di hadapannya. Berpikir.
“Atau tidak ada bunga yang kamu suka?” aku jadi tidak sabar karenanya.
“Mawar putih!” Nadya menjawab pasti. Kunikmati bibirnya yang bergerak.
“Kenapa?” Aku berharap Nadya mau menggerak-gerakkan bibirnya lagi.
“Lebih tahan lama dibanding yang merah kalau ditaruh di vas, tidak terlalu wangi dan durinya kecil-kecil. Berkesan bersih, baunya tidak bikin mabuk dan memegangnya enak. Tidak sakit.” Dia seperti mengerti dahagaku akan gerak bibirnya. Terima kasih, Tuhan!
Aku tidak mengira Nadya menyukai sesuatu bukan lantaran tampilannya saja.
“Kamu sendiri?” tanyanya. Aku terkejut. Tidak menyangka dia membalikkan pertanyaan. Aku? Bunga? Tentu saja aku menggilai kaktus. Tapi apakah kaktus termasuk bunga baginya? Selain kaktus, aku pun suka teratai. Hidup di air, menguasai dengan daun-daunnya yang lebar.
“Teratai,” kataku.
“Selera aneh,” katanya menanggapi. “Tapi setiap orang punya pilihan sendiri-sendiri, jadi aku tidak ingin bertanya apa alasannya,” lanjutnya. Aku merasa tersindir.
Nadya kembali tenggelam bersama puzzlenya. Gelombang diam yang turun-naik berterbangan di udara membuatku bingung, tak tahu mesti berbuat apa.
“Ari, aku kepingin tahu, kamu senang nonton film tidak?” Kali ini dia bertanya lebih dulu. Pertanyaan bagus. Harus bisa kujadikan percakapan yang panjang.
“Suka.”
“Film apa? Action, drama, komedi atau....?”
“Drama.” Aku menjawab dingin berharap Nadya mengembangkan percakapan menanyakan judul film kesukaanku. Di kepalaku Gerard Depardieu dan Andie Mac. Dowwell berpelukan. Permainan bagus mereka suguhkan dalam Green Card. Aku bersiap-siap menjawabnya. Dia tertawa. Tuhan, garis melengkung itu.
“Aku tidak suka. Lebih seru nonton film kartun. Lucu. Apalagi Dragon Ball. Aku gemas kalau ingat buntutnya Son Goku.” Manja sekali dia.
Monyet! Monyet! Aku jadi lemas. Malas melanjutkan percakapan seperti begini. Rencanaku buyar semua. Tapi kupaksakan terus mendekatinya. Benar-benar seperti kaktus. Aku mesti sabar menghadapinya.
* * *
Kegigihanku berbuah. Nadya betah bila bersamaku. Kami sering jalan berdua, makan di kafe, belanja, nonton bioskop, melihat pertandingan softball, memborong buku-buku bekas, berlatih tenis, membantu merawat kaktus-kaktusku, atau tertawa keras-keras sambil bergandengan tangan di mal. Dia sering tidur satu ranjang denganku. Begitu pun aku, dalam seminggu beberapa kali jadwalku menginap di kosnya. Aku sungguh-sungguh tersihir oleh semua itu.
Tidak lama lagi akan kuutarakan perasaanku padanya. Tinggal menunggu saat yang tepat, yaitu ketika cinta kami tak ubahnya kaktus yang tengah di puncak penampilannya. Sebentar lagi. Sebentar lagi.
Ketika waktu itu tiba, pada suatu pagi yang dingin, di ranjangku, saat kami baru saja terbangun dari tidur tak nyenyak, kubisikkan di telinganya betapa aku dibakar kebahagiaan bersamanya. “Aku cinta kamu, Nadya. Kamu harus hidup denganku selamanya. Kita bisa menikah di Amsterdam - kembali lagi ke sini atau menetap di sana – lantas berdua menghabiskan sisa umur.”
Nadya terkesiap. Tidak percaya apa yang didengarnya. Keningnya berkerut.
“Kamu kan perempuan, Ari!”
“Kenapa? Apa perempuan tidak boleh jatuh cinta pada perempuan? Aku tergila-gila padamu, Nadya! Memujamu!”
Nadya hanya terdiam. Pandangannya jauh menerawang entah kemana. Aku menjadi tak enak hati karenanya. Beberapa menit kami disibukkan dengan perasaan masing-masing.
“Ari, entahlah. Aku suka padamu. Kurasa aku jatuh cinta padamu. Tapi aku belum yakin apa aku benar-benar cinta kamu. Ari, boleh aku berpikir? Sendiri, barang satu-dua hari ini?” Nadya berkata lirih. Wajahnya yang muram masih mampu menyungging senyum.
Nadya menghilang sejak itu. Seminggu ini aku kehilangan jejaknya. Mulanya aku mengira dia shock, perlu menenangkan diri sejenak. Kubebaskan saja sampai dia merasa sedikit tenang. Tapi dia tak pernah lagi menemuiku.
Pada malam ketujuh sejak dia menghindariku itu, aku bermimpi aneh: dalam mobil berkecepatan tinggi tangannya lincah kendalikan kemudi; Nadya dipenuhi gelora menciumku. Aku sangat tertohok membalas mencium. Sepertinya, kaktus mungil berduri kaku di dalam pot plastik yang baru saja kami beli di sebuah pusat pembibitan tanaman hias (kado ulang tahunnya dariku) - ditusuk-tusukkan ke bibirku. Darah membanjir: merah kecoklatan, segar! Bibirnya dan duri-duri kaktus ikut memerah. Hanya merah. Tanpa nuansa coklat. Dia dan kaktus nikmati bibirku yang terus berdarah dengan lembut, lantas perlahan-lahan berhenti juga akhirnya. Dan mobil dia pacu lebih cepat. Langit gelap pekat bergemuruh. Angin bertiup kencang sekali.
Nyeri di bibirku nyata! Aku terjaga. Kurasakan berat tubuh Nadya menindihku. Bibirnya kasar memagut bibirku. Kemudian wajahnya naik pelan-pelan menjauh. Ditatapnya aku lekat-lekat. Kesadaranku yang belum pulih benar menangkap bayangan tangannya memegang pot berisi kaktus rebutia kesayanganku. Rambutnya yang pendek kian pendek. Nyaris botak!
“Nadya, kenapa rambutmu dipotong model begitu?” Suaraku terdengar pelan. Tercekat.
“Aku juga cinta kamu, Ari. Harusnya mulutmu diam. Harusnya biarkan saja hubungan kita begini. Aku muak dengan rambutku! Aku benci mulutmu!” Matanya bengis memancarkan api. Tangannya terayun kencang, bertubi-tubi menghantamkan duri-duri kaktus ke wajahku.
Bandung, 7-14 Juli 2004
[i] Dari kalimat “acting like two fools,” lirik lagu When I First Kissed You, album ke-2 Extreme, Pornograffitty, 1990.
[ii] Semua penjelasan mengenai kaktus, disarikan dari buku Bertanam Kaktus, karangan Rismunandar, Penerbit Penebar Swadaya, Cetakan VIII, 1995.
Posted at 11:28 am by Lian_H_Bahar
Permalink
LELAKI YANG DUDUK DI AYUNAN SEPANJANG HARI
Sampai sore ini empat hari sudah Handoko (29 tahun) menunggu kedatangan surat itu. Seorang teman yang sering terlibat diskusi seru dengannya dari mereka masih pelajar SMP, Fatima namanya, (kini menetap di Padang), mengirim pesan ke telepon genggamnya: “Sdh sampaikh suratku? Banyak crita kutulis, via sms gak akn ttampung. Hrsny kt bicara lgsng. Tp mahal kl sljj km ke Bdg. Hrp maklum, Bung!”[i]
Semenjak SMS itu ia terima, jika hari cerah atau matahari tidak terlalu terik bersinar, setiap pagi sehabis sarapan Handoko duduk di ayunan yang ada di halaman rumahnya menanti tukang pos lewat. Tidak ada jadwal tetap kapan tukang pos tiba. Kadang pagi. Kadang siang. Kadang sore. Tergantung harus ke mana dulu dia mengantar surat-surat. Kalau di daerah D banyak surat harus diantarkan, tentu dia lama berkeliling-keliling di sana sebelum melanjutkan ke tempat lain. Demikian sebaliknya. Tiga hari belakangan tukang pos itu hanya lewat, tanpa mampir.
Sembari menunggu Handoko menyibukkan diri melakukan apa saja mengusir jenuh. Sesekali ia nampak serius membolak-balik lembar-lembar koran. Sesekali ia bermain-main – menggendong - mengelus bulu kucing-kucing piaraan keluarganya. Atau merokok. Atau melamun membayangkan entah apa. Kadang ia bangkit dari duduknya untuk menyiram tanaman. Yang terakhir inilah yang paling disenanginya. Dengan air yang menyembur dari selang ia mandikan pinang merah, kembang sepatu, kaktus kodok, palam botol, bambu jepang, tombak raja, beringin putih yang dibonsai, sikas, dan siklok di halaman yang cukup luas itu tanpa setitikpun ada celah terlewati. Butir-butir air membasahi pucuk daun tertinggi, turun ke batang, hingga akar yang tersembul dari dalam tanah. Ada kebahagiaan menyelinap masuk menjalari tubuhnya mengetahui tanaman-tanaman itu bertambah segar. Dedaunan berdesir ditiup angin seakan tulus mengucap terima kasih. Handoko jadi lupa pada niat semula: menunggu sepucuk surat.
Tukang Pos itu lewat juga akhirnya. Hari menjelang sore. Azan asar baru terdengar berkumandang melalui corong pengeras suara dari menara masjid. Tapi dia cuma melempar senyum pada Handoko sambil terus mengendarai sepeda motor dinasnya yang dicat oranye. Lagi-lagi Tukang Pos itu tidak mampir.
Handoko balas tersenyum. Sebuah senyuman yang nyata sekali dipaksakan. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Dirinya serasa dipermainkan sebab harus kembali menunggu. “Mungkin besok atau lusa surat itu sampai. Jangan mudah menyerah begitu, Koko,” diteguhkannya hatinya.
Seumur hidup Handoko menyayangi teman baiknya itu. Fatima pun demikian adanya. Keduanya saling memahami satu sama lain. “Bisa jadi, sesuatu telah terjadi pada Fatima,” Handoko menerka-nerka. Selama ini tidak sekalipun Fatima berkirim surat. Mereka bertukar kabar melalui SMS. “Mungkinkah sebuah masalah pelik tengah menimpanya? Apa yang sesungguhnya ingin ia ceritakan?” Handoko semakin penasaran ingin tahu isi surat Fatima.
Kalau dibanding-bandingkan dengan peristiwa yang pernah dialami, sebetulnya kesabaran Handoko telah teruji oleh waktu. Menunggu surat Fatima kali ini tidak ada apa-apanya dibanding pengalamannya di masa kecil.
Handoko menderita enuresis[ii]* waktu umurnya 9-15 tahun. Padahal, dari selepas bayi hingga umur sembilan tahun, ia bisa mengendalikan keinginan buang air kecil saat tidur. Ia selalu terbangun jika kantung kemihnya penuh. Selepas usia itu, ia sendiri tidak mengerti apa sebabnya ia kembali mengompol. Entah kenapa otaknya tidak mampu menangkap perintah bila kapasitas tampung kantung kemihnya telah berlebih. Tiap malam kasurnya basah oleh air kencing yang keluar tanpa ia sadari.
Berbagai macam cara ditempuh demi kesembuhannya. Mulai pengobatan tradisional sampai yang modern. Pusarnya pernah selama dua minggu harus digigit capung. Awalnya ia enggan, tapi kedua orang tuanya memaksa melakukan itu. “Cobalah dulu, Ko. Mama dan Papa ndak memintamu melakukan sesuatu yang menyeramkan. Lain hal kalau kami menyuruh supaya udelmu digigit buaya atau harimau. Cuma seekor capung kecil yang gigitannya mungkin membuatmu malah geli, kok ndak mau sih, Ko? Ini kan untuk kebaikanmu juga. Ayolah!” setelah ayahnya marah-marah karena Handoko tidak mau menurut, ibunya merayu dengan setengah bercanda seraya menyodorkan seekor capung. Tatkala capung itu menggigit pusarnya kemudian, ia tidak merasa apa-apa. Tepatnya, Handoko tidak ingin merasakan apa-apa. Handoko iba pada capung itu. “Pasti ia kesakitan karena sayap-sayapnya harus didempetkan menyatu agar kepalanya bisa masuk ke dalam pusarku,” Handoko membatin. Di luar rumah, ia lepaskan capung itu. Cepat sekali serangga yang malang itu terbang menghilang, sembunyi di balik rimbun dedaunan.
Sungguh. Mitos yang tidak masuk akal memang. Dan untuk Handoko mitos itu benar-benar tidak terbukti kebenarannya. Ia masih saja mengompol.
Sebuah usaha gagal. “Ritual-ritual” baru lain wajib dipatuhinya. Ia tidak boleh minum dan harus buang air kecil menjelang naik ke tempat tidur. Harus mencuci sendiri semua yang basah oleh kencingnya dan menjemur kasur tiap pagi sebelum berangkat sekolah - biar ia malu jika dilihat tetangga (hukuman ini dimaksudkan orang tuanya supaya Handoko bersungguh-sungguh punya niat sembuh). Minimal selama setengah jam sehari, harus tidur telentang merapat ke dinding, lalu mengangkat kedua kaki ke dinding itu sementara tangan-tangannya diletakkan di pinggul membantu menahan berat tubuh. Melelahkan! Ia pun menjalani pijat refleksi telapak kaki. Sekuat tenaga ditahannya agar tak menangis, tapi air mata tetap saja mengalir, tidak kuasa ia menahan sakit tiada terperi saat terapi berlangsung. Handoko juga memeriksakan diri ke dokter. Semua keharusan itu ia kerjakan penuh semangat agar cepat sembuh.
Yang belum dilakukannya ialah berkonsultasi pada seorang psikiater. Bukan tidak ingin. Tapi karena kedua orang tuanya beranggapan penyebab enuresis itu bukanlah masalah kejiwaan, dan Handoko sendiri tidak berpikir ke arah sana. Tidak ada yang salah pada jiwanya.
Sebelum tertidur, Handoko pasti berdoa. Sambil menangis tertahan ia memohon agar Tuhan menyembuhkannya segera. Ia merasa sangat tidak berdaya. Menyebalkan menjadi makhluk itu. Mesti sabar, pasrah, dan tawakal, serta segala macam bentuk ketidakberdayaan lain. Dan Tuhan pun cuma diam: tidak menjawab doa-doa! Beragam pertanyaan timbul dalam renungannya, “Jika ini semacam kutukan karena tingkah laku yang salah di masa bayi, siapakah yang bisa menyadari itu? Kenapa Tuhan tidak memberi sinyal mengampuni? Lewat sebuah mimpi, misalnya. Selamanya aku hanya bisa menunggu kapan berakhir. Selamanya aku hanya bisa bertanya-tanya. Selamanya!”
Tiba-tiba ia ingin menjadi Tuhan.
Sebentar kemudian Handoko menyadari kesalahannya. “Mana mungkin aku jadi Tuhan. Dan Tuhan mengampuni kesalahan hamba-hamba-Nya. Akulah yang bodoh, tidak mampu menangkap sinyal-sinyal. Tidak menggunakan otak dan batinku dengan baik! Dasar tolol!” Handoko menyumpahi kekeliruannya. “Ampun, Tuhanku!” ia seperti mendengar suara yang lamat-lamat keluar dari lubuk hatinya.
Besoknya - bangun tidur - seperti biasa ia dapati seprai, kasur, sarung bantal, selimut, dan pakaiannya basah lagi.
Saudara-saudaranya mengolok-olok. Sindiran-sindiran pedas menyakitkan. “Bayi! Udah gede masih ngompol. Sekalian aja netek lagi sana sama Mama!” kakaknya berteriak.
“Bukan. Bukan bayi, Mbak Ning. Tapi ikan! Mas Koko, apa nggak capek berenang semalaman?” adiknya ikut mengejek sambil tertawa-tawa. Katanya lagi, “Adit dapat ide. Gimana kalau burung Mas Koko kita ikat pakai benang? Kalau Mas Koko mau pipis, tinggal dibuka ikatannya. Kan lucu, bisa buka-tutup. Kayak keran air!”
Handoko terdiam. Sedih sekali hatinya. Tapi ia tidak bisa apa-apa.
Akhirnya Tuhan mengabulkan doanya.
Pada suatu pagi semua itu berakhir. Ia tidak mengompol malam itu. Bangga sekali ia menyadari kasurnya kering. Tapi perasaan itu disimpannya saja. Handoko khawatir jangan-jangan besok-besok ia kembali mengompol. Ibu dan ayahnya terkejut, tidak yakin ia sembuh - tapi gembira. Kakak dan adiknya cuma berkomentar singkat, “Tumben!”
Hari-hari berikut penyakit itu lenyap begitu saja. Ia tidak pernah mengompol lagi. Enam tahun yang melelahkan untuk ujian melatih kesabaran.
Apakah ini namanya kalau bukan ironis? Handoko yang sanggup menunggu bertahun-tahun terganggu emosinya karena sepucuk surat! Ia kesal pada Fatima. “Mungkin Fatima sedang mempermainkanku. Dulu gadis itu tidak mau percaya ketika kubilang bahwa akulah temannya yang paling sabar, yang kuat menunggu dalam jangka waktu panjang sampai bertahun-tahun lamanya,” Handoko terkenang suatu kali mereka pernah ngobrol tentang rasa sabar. Ia ingin membuktikan kebenaran pikiran-pikiran yang berseliweran di kepalanya itu. Diputuskannya untuk menunggu dua hari lagi. Jika surat itu belum datang juga, akan ia telepon Fatima. “Aku mesti bicara langsung pada Fatima. Tidak lewat SMS. Terlalu lama jika aku harus mengetik huruf-huruf pada keypad ponselku. Belum lagi menunggu balasan dari Fatima,” Handoko heran, semestinya ia bisa lebih bersabar.
Dua hari berturut-turut hujan turun seharian. Tidak lebat. Hanya gerimis yang panjang. Dua hari pula Handoko tidak menyiram tanaman. Tanaman-tanaman sudah begitu segar. Basah. Jadi, ia tidak perlu melakukan itu. Ia nikmati hijau pekarangan rumahnya dari kaca jendela. Dua hari itu, tetap saja surat Fatima belum sampai-sampai juga.
Maka diteleponnya Fatima. Suara manja terdengar di ujung saluran, “Halo, Koko…. Pasti suratku sudah kamu baca. Kapan dibalas?”
“Kamu benar-benar mengirimkan surat itu ke aku?”
“Kenapa, Ko?”
“Surat itu belum sampai, Fatima. Kamu bohong, ya?”
“Aku sumpah, Koko! Aku kirim surat itu seminggu yang lalu ke alamatmu. Rumahmu masih yang lama, kan?”
“Kok lama sekali sampainya, ya?! Pasti yang kamu tempel di amplopnya bukan perangko kilat. Coba kemarin itu pakai kilat khusus. Biayanya nggak mahal-mahal amat dan sampainya cepat. Pantas Pak Pos nggak pernah berhenti di rumahku.”
“Aduh…! Aku lupa bilang. Surat itu nggak kukirim via pos. Tapi merpati pos. Burung! Surat itu aku ikatkan di lehernya!”
“Sialan! Kenapa nggak dari awal, Fat? Kalau begitu aku nggak perlu bersusah-susah menunggu suratmu itu!”
“Maaf, deh. Aku lupa. Tapi Ko, kamu masih mau menunggunya barang beberapa hari lagi, kan? Merpatiku itu pasti ke rumahmu. Dia burung yang terlatih!”
“Oke… oke. Aku tunggu merpati itu. Sudah dulu! Pulsaku tinggal sedikit!” Handoko memutuskan sambungan.
Ternyata itu adalah percakapan terakhirnya dengan Fatima. Tujuh jam setelahnya Handoko sedang dalam perjalanan dari Bandung, mengejar penerbangan pertama ke Padang yang berangkat subuh dari Jakarta. Ia akan menghadiri pemakaman Fatima. Keluarga Fatima mengabari, perempuan yang paling mengerti dirinya itu bunuh diri.
* * *
Setiap hari jika hujan tidak turun atau matahari bersinar lembut, laki-laki itu akan duduk di ayunan yang ada di halaman rumahnya menatap angkasa. Rambutnya memutih. Kulit tubuhnya keriput kini. Bertahun-tahun sudah ia menanti, tetapi tidak kunjung datang seekor merpati berkalung sepucuk surat di leher ke alamatnya. Barangkali merpati itu tidak akan pernah sampai. Mungkin mati kena ketapel seorang bocah nakal. Atau tertembak peluru dari senapan para pemburu. Atau kehabisan tenaga. Atau tidak kuat menghadapi perubahan cuaca yang tak bisa diduga-duga. Atau….
Tapi ia masih, dan tetap setia: menunggu.
Bandung, 14-22 April 2004
[i] Maksud SMS tersebut adalah “Sudah sampaikah suratku? Banyak cerita kutulis, via SMS tidak akan tertampung. Harusnya kita bicara langsung. Tapi mahal kalau SLJJ kamu ke Bandung. Harap maklum Bung!”
[ii] Enuresis: Kebiasaan pengeluaran air seni yang tak terkendali (ngompol) pada anak usia lebih dari tiga tahun.
Posted at 11:25 am by Lian_H_Bahar
Permalink
Gadis itu dipaksa waktu untuk menetap di sebuah pulau. Jauh di tengah lautan. Tidak ada yang tahu sampai berapa lama, kecuali waktu itu sendiri. Dan waktu tidak ingin berbagi.
Aku – tak ada yang mampu memaksa meninggalkan pulau ini. Ibu sekali pun. Namun terus saja beliau membujukku. Bahkan waktu. Atau setidaknya saat ini waktu tidak bisa berbuat apa-apa. Tanah ini sudah terlalu banyak melahirkan gadis-gadis menarik. He-he-he! Aku sangat kerasan di sini. Tapi nanti akan tiba saatnya kutinggalkan semuanya dengan tidak menoleh sedetik pun ke belakang.
Telepon di kamarku berdering nyaring. Aku terbangun. Hari sudah sangat larut Mungkin inilah tengah malam buta itu. Ribuan kilometer tiada berarti. Aku bilang padanya: “Anda tidak harus memaksakan diri untuk ngobrol dengan seseorang, siapa pun – pada jam-jam sepi – kalau Anda sendiri tidak tahu pada siapa sebetulnya Anda ingin sekali bicara.” Suaraku terdengar kering dan berat. Tercekat. Dia menggumamkan sesuatu. Tidak jelas. Mungkin menertawai suaraku.
Gadis aneh. Telepon yang bergagang sangat dingin. Sedingin es krim. Suara sendiri yang menyebalkan.
Tidak pernah aku merasa muak seperti sekarang ini. Tidak pernah.
Posted at 11:21 am by Lian_H_Bahar
Permalink
MENIK (PEREMPUAN YANG MEMUJA LAMPU-LAMPU)
Menik senang sekali memperhatikan lampu-lampu itu. Berbinar-binar matanya memantulkan cahaya jika dia sedang memandanginya seperti sekarang ini. Kebahagiaan juga kesedihan memancar dari sana. Sekaligus.
Tiap kali kencan malam hari bersama Adit, dia selalu meminta laki-laki itu untuk bersedia mengantarkannya menuju lokasi sebuah kilang minyak milik pemerintah, 14 km dari pusat kota. Katanya dengan manja, “Mas Adit! Kita lihat lampu-lampu kilang lagi, yuk!”
Ada ribuan lampu-lampu di kilang itu. Terang sekali. Putih. Kuning kemerahan. Berkilau. Seperti jutaan bintang yang disusun berdekatan di satu langit. Juga ada yang berkedap-kedip. Seperti kunang-kunang sedang terbang. Bintang dan kunang-kunang. Menik suka perpaduan itu. “Jika bintang-bintang itu berdekatan letaknya, tentu bintang-bintang, planet-planet, satelit-satelit, akan saling bertabrakan karena sempitnya orbit. Atau yang terburuk, tidak akan mungkin ada galaksi untuk benda-benda angkasa itu. Tidak akan ada kehidupan. Tidak akan ada saya. Tidak akan ada Mas Adit,” sering Menik berpikiran begitu. “Tata letak yang sempurna. Itulah hebatnya Tuhan. Sungguh Tuhan maha bijaksana.”
Menik bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Dia kenal Adit sembilan bulan yang lalu karena Adit sering menunggui mamanya yang diopname. Menik salah satu perawat yang ditugaskan mengawasi kesehatan mamanya Adit.
Setelah berkenalan dan mamanya sembuh, Adit jadi sering datang ke tempat kosnya. Menik hidup sendiri di kota. Ayahnya menetap di desa. Ibunya — yang sering mencubitnya sampai badannya biru-biru jika Menik dianggapnya nakal, meninggal dunia saat dia baru berumur empat tahun. Mereka sering diskusi tentang banyak hal. Biasanya diskusi itu ditutup dengan kunjungan ke kilang.
Menik tahu Adit selalu memperhatikan tingkahnya kala dia sedang mengagumi indahnya lampu-lampu. Selalu kaki-kakinya dinaikkan ke atas jok mobil dan mendekapnya sekuat tenaga hingga dia bisa mencium kedua lututnya. Tapi Adit tidak pernah bertanya kenapa Menik menyukai lampu-lampu. Menik sangat berterima kasih untuk itu. Kadang tangisnya nyaris pecah karena sedih (namun sering, lebih karena bahagia). Menik berusaha keras menahannya, harus digigitnya bibirnya sampai berdarah. Malu jika ketahuan Adit dia menangis.
Kalau suatu saat Adit menanyakannya juga, dia sudah mempersiapkan jawaban. Dengan suara selembut mungkin dia akan bilang, “Mas Adit, saya ini phobia kegelapan. Ndak bisa tidur kalau lampu dimatikan. Saya menyukai terang, Mas. Mencintai sinar. Atau cahaya. Saya memuja lampu-lampu.” Dan memang itulah adanya.
Di kamar orang tuanya peristiwa itu terjadi 21 tahun lalu: dia melihat bayangan seseorang menghantamkan kapak yang sering dipakai untuk membelah-belah kayu buat masak, ke tubuh ibu. Semua hanya bayang-bayang, karena lampu yang dimiliki rumah mereka cuma ada satu, di ruang tengah. Namun dia bisa pastikan itu adalah bayang-bayang ayah meski dia masih sangat kecil pada saat itu. Karena dia sangat kenal ayahnya. Karena dia sangat mencintai beliau.
Kepada Adit, Menik tidak akan pernah mau menceritakannya. Tidak akan pernah, janjinya.
Posted at 11:19 am by Lian_H_Bahar
Permalink
Benar-benar saat terakhir, turun dari pesawat terbang menuju mobil jemputan, tak dijumpainya lagi perempuan itu. Mungkin dia sudah turun duluan, pikirnya. Sorot mata cerdas gadis 9 tahun pendiam berkulit putih amat dikenalnya itu, ia lihat terakhir kali dalam kokpit hercules yang menerbangkan mereka berpuluh-puluh tahun yang lalu. Setangkai anyelir mungil diselipkan di telinga kiri si gadis. Ungu.
Mereka duduk bersebelahan satu kelas di salah satu kelas 3 sebuah SD di kota kelahirannya. Laki-laki itu suka mencuri-curi pandang. Ada sepasang pipi bersih yang selalu ingin dikaguminya tiap pagi. Ada sepasang mata yang akan malu-malu menatap kembali, namun justru menyebabkan ia beralih melihat ke meja sambil berpura-pura menuliskan sesuatu di halaman-halaman buku tulis bergaris. Mereka tidak pernah bicara kecuali “pinjam penghapusnya” atau “terima kasih, ya“ saat ia harus menghapus tulisan yang salah dan mengembalikan karet penghapus milik gadis itu. Laki-laki itu tak pernah mau membawa karet penghapus ke sekolah sepanjang tahun ajaran itu.
Seumur hidup aku memimpikannya, rupanya.
* * *
Seorang perempuan tua, 1,5 tahun yang lalu, membawakan seikat kembang putih susu - kemudian diketahuinya sebagai aster — mempercantik ruangan tempat ia dan suami perempuan tua itu dirawat. Kembang mulai layu, kembang segar baru dibawakan.
Aku merasa memiliki kekuatan untuk sembuh segera.
Sebulan kemudian suami perempuan yang lemah lembut itu meninggal dunia.
* * *
Dipaksanya pagi itu ibunya yang gila tanaman membeli sekuntum anyelir dan sekuntum aster. “Jangan! Jangan cuma sekuntum, Ma. Sekalian pohonnya. Biar aku merawatnya.”
Posted at 11:12 am by Lian_H_Bahar
Permalink
Di kamar ini cuma ada kecoa. Meja dan kursi-kursi. Tas dan buku-buku kuliah. Tempat tidur, kasur dan bantal. Selimut. Jins yang tergantung. Bunyi detak jarum jam dinding (biasanya tak terdengar). Auguzta menuliskan semua: “Kapan masalah berakhir? Kenapa susah sekali untuk tidur?”
Rasanya tidak adil jika ia sering berkeluh kesah, mengomel tentang masalah-masalah yang sedang dihadapinya kepada diri sendiri sementara orang lain dianggap tidak punya masalah sama sekali.
Susah tidur itu bukan melulu karena banyak masalah menyerbu. Hadapi sajalah dan besok aku konsultasi ke dokter. Sepertinya aku mengidap insomnia yang cukup parah, ia menyimpulkan.
Posted at 11:04 am by Lian_H_Bahar
Permalink
Ia tidak tahu sedang berada di mana. Entah kapan. Terlalu banyak yang ia rasakan. “Barangkali aku sudah gila,” Auguzta bicara pada dirinya sendiri.
Dilihatnya bola softball itu berputar kencang lurus menujunya, lalu setelah mendekati pemukul yang berdiri di depannya tiba-tiba menurun, masuk glove catcher di tangan kirinya. Si Pemukul hampir terjatuh karena hanya memukul angin. Lemparan down ball yang sempurna. “Strike One!” Umpire di belakangnya mengingatkan. Auguzta bangkit dari jongkoknya. “Lagi, Pitch! Kasih lagi yang seperti tadi!” ia berteriak ke arah orang yang dipanggilnya “Pitch” sambil melemparkan bola. Orang itu mengangguk dan menangkap bola yang melayang membentuk parabola; badannya besar dan hitam dengan sorot mata jenaka. Beberapa saat kemudian Auguzta telah berada di rumah orang tuanya yang cukup asri, nonton teve sambil menggaruk-garuk leher yang gatal lantaran baru saja digigit nyamuk sementara kedua kakinya diletakkan memanjang di atas meja. Lalu ia merasa seperti sedang duduk di depan sebuah rawa yang penuh bunga teratai berbagai macam ukuran. Ia berada di mana-mana. Menerima dua bungkus sate padang dari seorang laki-laki setengah baya berpeci hitam sambil menyerahkan sepuluh ribu rupiah sebagai pengganti. Ia sakit perut, sedang bersiul-siul di dalam WC. Ia berada di lapangan bola. Ia sedang dalam pesawat menuju Irlandia. Matanya menangis karena harus berpisah dengan teman terbaiknya yang penuh kebaikan selama enam tahun. Lengan panjang bajunya yang kiri sedang digulung tangan kanannya. Baru saja ia selesai mandi. Ia mencari handuk. Ia tertidur dengan rokok menyala di tangan. Celana jins dekil yang tergantung mengejeknya minta dicuci. Bersama beberapa anak kecil ia mencabuti rumput. Ia menjelajahi hutan rimba yang gelap. Mulutnya mengunyah terung goreng yang disambal. Ia bersikeras mencari cermin. Dilihatnya pantulan wajahnya beberapa saat sebelum lenyap tiba-tiba. “Cermin apa ini! Aku tak bisa melihat bayanganku di dalamnya,” hatinya terganggu. Cermin itu berwarna ungu.
Cuma satu yang pasti saat itu. Seperti cermin, semua yang dicermati Auguzta memancarkan warna ungu kemilau.
* * *
Enam belas tahun yang lalu.
Pada suatu malam Auguzta makan di sebuah kafe pinggir jalan dekat kampusnya. Minum cappuccino (hanya pesanannya yang diberi es), makan roti bakar isi selai dan cokelat, ditambah sepiring nasi goreng beraroma kari India yang dibagi berdua. Mereka bertiga. Ia dan dua orang sahabatnya. Seorang laki-laki dan seorang perempuan. Mereka memilih duduk di bawah langit. “Biar bisa lihat bintang,” kata yang perempuan.
Yang mereka lakukan selanjutnya adalah berbagi cerita. Tentang betapa Fitri, teman perempuannya itu, sedang pusing memikirkan diri sendiri yang harus setia tapi menjadi bodoh terhadap perasaannya pada seorang laki-laki yang entah dimana, tiada berkabar. Teman laki-lakinya, Darma, terheran-heran mendengarkan cerita menakjubkan itu. Tentang Zinedine Yazid Zidane yang betah di Real Madrid.g lalu.ya beberapa saat Tentang dirinya yang baru saja menemui dosen pembimbing skripsi untuk berkonsultasi. Tentang cinta. Tentang jodoh. Tentang Indonesia. Tentang paduan suara mahasiswa universitas mereka. Tentang teman-teman lain. Tentang lagu. Tentang film. Tentang perselingkuhan. Tentang kenangan. Tentang berita-berita di televisi, radio, atau surat kabar yang setiap saat bisa berubah sangat cepat, membingungkan, entah harus dipercaya atau tidak. Tentang kolam renang.
Mereka tidak sabar ingin reuni suatu saat nanti.
“Yuk, pulang. Sudah malam.” Teman perempuannya mengingatkan untuk kembali ke rumah masing-masing.
Malam kian malam memang. Bintang-bintang ingin tidur malam itu, hilang tertutup awan, hanya satu dua saja yang masih bisa dilihat sinarnya.
Di dalam mobil mereka berdebat soal hidup.
“Hidup itu nggak cuma kebetulan. Aku cenderung melihatnya sebagai bagian dari rencana Tuhan. Kumpulnya kita malam ini, misalnya.” Auguzta membantah pernyataan Darma yang lebih memilih hidup merupakan rangkaian kebetulan-kebetulan. “Sopir” mereka malam itu, Fitri, mengiyakan, sambil tetap konsentrasi menyetir, “Setuju!” katanya.
Tapi apakah itu penting? Rasanya tidak. Biarkan mereka dengan pikirannya sendiri-sendiri.
* * *
Enam belas tahun berlalu.
Sekali lagi waktu yang menang. Karena manusia hanya bisa menunggu. Telah berubah ia kini. Bekerja, cukup mapan, tapi masih sendiri. “Mungkin aku terlalu sering teramat mengagumi perempuan hingga tak satu orang pun yang mau percaya pada ketulusanku,” sambil mencuci mukanya di wastafel, Auguzta bergumam pelan saat baru saja bangun ketika umurnya tepat 39 tahun pada suatu pagi. Semoga aku bahagia selalu. Selamat ulang tahun, wahai aku.
Diperhatikannya wajahnya sendiri lewat pantulan dari cermin di atas wastafel. Rambutnya begitu-begitu saja. Tetap hitam. Matanya begitu-begitu saja. Tetap suka dikedip-kedipkan dengan sengaja. Dagunya begitu-begitu saja. Tetap dua. Lemak yang dahulu menggantung masih ada di sana. “Huahaha.” Ia tertawa. Ketawa yang sama. Tapi kerut-kerut itu. Apakah sudah ada di wajahnya sejak dulu? Tidak. Ternyata ia bertambah tua. Dan masih sendiri.
Sahabat-sahabatnya telah berkeluarga. Darma, teman laki-laki yang bersamanya makan di kafe enam belas tahun yang lalu itu kini hidup bersama perempuan yang sejak jauh sebelum enam belas tahun yang lalu telah menjadi pacarnya. Fitri menetap di Paris setelah menikah dengan seorang spacenout Perancis. Bukan dengan laki-laki yang ditunggunya dahulu. Itulah jalan hidup. Dan anak-anak sahabat-sahabatnya itu kini sudah besar-besar.
Apakah itu kebetulan ? Apakah itu rencana Tuhan? Apa pun itu, menjadi tergantung suasana hati untuk menjawab agaknya.
* * *
Enam belas tahun lalu.
Auguzta selalu begitu pasti mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan kenapa menggilai sesuatu. Seperti betapa ia menyukai kuku-kuku jari tangan yang panjang rapi, bersih, putih kemerah-merahan, ketika harus menjawab apa yang disuka dari pacar keduanya. Atau Auguzta suka sekali Nurul Arifin sebab rambut pendek dan bibirnya adalah keindahan perempuan paling menarik untuk bola-bola matanya.
Selalu? Tidak juga ternyata. Ada satu pertanyaan yang tak bisa sepenuhnya ia jabarkan jawabannya. Kalau ada yang bertanya ia mau mati dimana dan bagaimana, akan ia jawab ingin mati dimana pun terserah, dengan cara apa saja. Akan ia tambahkan pula, kapan saja. Bersama siapa pun. Auguzta menyadari bahwa ia belum siap tapi kematian pasti akan terjadi.
Dirinya menghendaki semua akan berwarna ungu pada waktu itu. Bumi. Tempat tidur. Bibirnya. Cat ruangan tempat ia disemayamkan. Kalender. Kulkas. Remote control. Burung-burung. Matahari atau bulan. Darah. Tinta catatan kematiannya. Baling-baling kipas angin. Mobil jenazah. Angkasa. Kuburan. Telepon. Asbak. Semua! Ia mengidamkan nuansa ungu: kematian misterius, kepedihan yang mendalam, kemenangan orang-orang tertentu.
Alasannya ia tidak tahu. Kali ini akan keluar jawaban, “Aku suka aja.” Tanpa alasan. Bahkan ia malah cuma diam - mengenakan jaket softball untuk menutupi tubuh gemuknya – tersenyum (baca: nyaris nyengir), lantas pergi meninggalkan pertanyaan itu.
Bandung, 4. 4. 04.
Posted at 11:02 am by Lian_H_Bahar
Permalink
“Dahsyat!” jawab Diani, gadisku. Aku bertanya apa yang dirasakan bibirnya - mengunyah sebutir permen. Paling lama ia hidup dua tahun lagi. (Perkiraan dokter! Tapi apa sih yang pasti?) Apakah orang yang mau mati bertingkah begitu?
Malam itu kami melintasi sebuah tempat pemakaman umum. Kuburan menjadi sangat indah diterangi sinar lampu. Ya. Sinar lampu dari sepeda motor yang aku kendarai dengan sebelah tangan dan dia membonceng di belakang. Seekor anak anjing berlari lambat-lambat, matanya jadi biru, kukira kunang-kunang terbang merendah.
Nisan-nisan tegak kaku menyiratkan statistik kematian. “Angka Mortalitas,” aku teringat salah satu kuliahku di kampus bertahun-tahun yang lalu. Dan nilainya C.
Dipeluknya aku kuat-kuat. Mulutnya menyentuh telingaku. Aku bingung ia membisik. Jari-jarinya aku cium pelan-pelan. “Antarkan aku pulang. Aku mau istirahat. Tidak akan aku temui lagi kalian, semua teman-temanku, juga kau, mulai sekarang.”
Posted at 10:47 am by Lian_H_Bahar
Permalink
|
 |
|
|
|
|